Raden AF, Mengupas Lagi Jendral AA, Terkenal Keberaniannya Mengeksekusi Anakbuahnya Merusak Bangsa

- Penulis

Minggu, 7 Juni 2026 - 09:57 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

 

 

BANYUWANGI —  Jendral Bintang Empat Dari Blora Jawa Tengah, Jendral Pol H. DRS. Agus Andrianto SH.MH, ditulis kembali oleh Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Fast Respon (PW FR) dan Fast Respon Nusantara (FRN), Raden Mas MH Agus Rugiarto Astrodiarjo SH.MH biasa Disapa Agus Flores.

Dalam Rekam Digital Jendral Bintang Empat Pemberani dan Banyak Karya karyanya diadopsi Ketum Agus Flores, termasuk Loyalitas Tanpa Batas, Polisi Bukan Warisan, Fast Respon, Sejarah Tak Bisa Terhapus, hingga Doa Para Jamaah Membuka Pintu Langit.

Dalam Tulisan AF, Jendral Bintang Empat tersebut, Merupakan lulusan dari Akademi Kepolisian (Akpol) pada tahun 1989. Sifat haus akan kompetensi hukum membawanya menyelesaikan pendidikan di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian (PTIK) pada tahun 1995,

Selanjutnya Melanjutkan Sekolah Staf dan Pimpinan Polri (Sespimpol) pada tahun 2012, hingga meraih gelar magister hukum dari Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara pada tahun 2018.

Awal kariernya Jendral Blora, di dunia kepolisian langsung diuji di medan yang cukup dinamis.

Jendral Agus memulai pengabdian dari level terbawah sebagai perwira samapta pada tahun 1989 di wilayah Kepolisian Daerah (Polda) Sumatra Utara. Ketajaman analisisnya di bidang reserse membuatnya dipercaya menjabat sebagai Kepala Kepolisian Sektor (Kapolsek) Sumbul (1992), Kapolsek Parapat (1993), hingga Kapolsek Sei Tuan (1995).

Sempat keluar dari Sumatra Utara untuk mengemban tugas sebagai Kepala Pusat Komando Pengendalian Operasi Polres Lampung Selatan pada tahun 1997,

Selanjutnya Jendral Agus kembali ditarik ke tanah Melayu Deli sebagai Kepala Kesatuan Reserse Kepolisian Kota Besar (Kasat Serse Poltabes) Medan pada tahun 1999.

Karier kepolisiannya terus bergerak menanjak melintasi berbagai wilayah penting di Indonesia.

Baca Juga  TM Gemkara Hadiahkan Peti Mati Kepada Pemkab Batu Bara

Selanjutnya Putra Blora ini sempat bergeser ke Polda Jawa Timur dan menjabat sebagai Wakil Kapolres Kesatuan Pelaksanaan Pengamanan Pelabuhan (KPPP) Tanjung Perak pada tahun 2003. Keahliannya di bidang hukum pidana membawa Putra Ganteng Berkumis Dari Blora ini masuk ke pusat episentrum keamanan di Polda Metro Jaya sebagai Kepala Kesatuan I Direktorat Reserse Kriminal Khusus pada tahun 2006, sebelum akhirnya dipromosikan menjadi Kapolres Metro Tangerang pada tahun 2007.

Keterikatan mendalam Jendral AA dengan Sumatra Utara kembali terajut saat dipercaya menjabat sebagai Direktur Reserse Kriminal (Dirreskrim) Polda Sumut. Pengalaman lapangan yang kaya tersebut membawa beliau ditarik ke Mabes Polri untuk menduduki posisi strategis di Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) serta sempat mengemban amanah di Badan Narkotika Nasional (BNN) sebagai Direktur Psikotropika dan Prekursor pada tahun 2015.

Puncak karier kewilayahannya tercapai secara paripurna di Sumatra Utara ketika dilantik sebagai Wakil Kapolda Sumut pada tahun 2017, dan tak lama berselang dipromosikan menjadi Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sumatra Utara periode 2018–2019.

Gebrakan demi gebrakan kepemimpinannya di daerah membuat karier struktural meroket di tingkat nasional. Pada akhir 2019, Jendral Bintang Empat dipercaya menjabat sebagai Kepala Badan Pemelihara Keamanan (Kabaharkam) Polri. Di tengah situasi penegakan hukum nasional yang membutuhkan konsolidasi kuat, beliau diangkat menjadi Kepala Bareskrim (Kabareskrim) Polri ke-22 pada tahun 2021. Di posisi inilah kepemimpinan dan ketegasannya diuji dalam mengawal berbagai kasus hukum besar yang menyedot perhatian publik.

Puncak karier dinas aktifnya di Korps Bhayangkara diraih pada 26 Juni 2023 ketika beliau dilantik sebagai Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri) dengan pangkat bintang empat.

Meskipun perjalanan kariernya tidak luput dari dinamika dan terpaan isu miring khas panggung hukum nasional, beliau tetap menunjukkan performa kerja yang profesional dan mendapatkan kepercayaan penuh dari kepemimpinan nasional.

Baca Juga  BNPB dan Basarnas: Dua Badan Penting dalam Penanggulangan Bencana di Indonesia

Tonggoh sejarah baru dalam karier pengabdiannya tercipta pada 21 Oktober 2024. Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik beliau sebagai Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Indonesia yang pertama, sebuah kementerian baru hasil pemekaran yang fokus pada tata kelola pintu gerbang negara dan pembinaan warga binaan. Bersamaan dengan pelantikan tersebut, beliau dianugerahi gelar Jenderal Polisi Kehormatan (HOR) sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi panjangnya bagi bangsa.

AF Menilai, Sosok Jendral AA, sangat mampu Menjaga integritas pintu gerbang kedaulatan negara, mereformasi sistem pemasyarakatan yang akuntabel, serta mengawal penegakan hukum di bidang reserse kriminal menuntut sosok pemimpin yang tidak hanya matang di medan operasi, namun juga memiliki keberanian tinggi dalam mengeksekusi kebijakan-kebijakan krusial.

Ketika tantangan global menuntut penguatan sektor keimigrasian dan pembenahan tata kelola hukum nasional, kepemimpinan nasional memanggil salah satu putra terbaik yang memiliki rekam jejak panjang di korps baju cokelat.

Karakter pemimpin yang tegas, berpengalaman di dunia reserse, serta berwibawa inilah yang melekat kuat pada diri Jenderal Polisi (HOR) Agus Andrianto, S.H., M.H. Sosok yang memiliki garis keturunan Minangkabau ini kini dipercaya memikul tanggung jawab besar di jajaran kabinet.

AF Menulis Juga, Jendral AA, Lahir di Blora, Jawa Tengah, pada 16 Februari 1967, Agus tumbuh dalam lingkungan keluarga yang berdedikasi tinggi pada pelayanan publik. AA, merupakan anak dari pasangan Sukarjan dan Sri Sundari. Hubungan kekeluargaan yang kuat di ranah Minang terjalin erat melalui ikatan pernikahan kakak kandungnya, Sri Setyorini—yang kini menjabat sebagai Wakil Bupati Blora—dengan Wiriya Alrahman, seorang tokoh birokrat asal Minangkabau, Sumatra Barat, yang pernah mengemban amanah penting sebagai Penjabat Wali Kota Padang.

Baca Juga  Dewan Pertimbangan Bapera Pusat, Harapkan Helmisyam Damanik Maju Pilbup 2024

Kedekatan kultural dan emosional dengan Sumatra Barat ini turut membentuk karakter kepemimpinan beliau yang adaptif namun tetap memegang teguh prinsip keadilan.

Ada yang menarik dari Jendral AA Blora, ketika Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik beliau sebagai Menteri Imigrasi dan Pemasyarakatan Indonesia yang pertama, sebuah kementerian baru hasil pemekaran yang fokus pada tata kelola pintu gerbang negara dan pembinaan warga binaan. Bersamaan dengan pelantikan tersebut, beliau dianugerahi gelar Jenderal Polisi Kehormatan (HOR) sebagai bentuk penghargaan atas dedikasi panjangnya bagi bangsa.

Begitu menjabat sebagai menteri, AA langsung bergerak cepat menunjukkan taji kepemimpinannya tanpa kompromi. Menanggapi adanya dugaan tindakan pemerasan terhadap wisatawan asing asal Tiongkok yang dilakukan oleh oknum petugas di Bandar Udara Internasional Soekarno–Hatta, AA langsung mengambil langkah ekstrem dengan mencopot 30 pejabat dan staf di Kantor Imigrasi Kelas I Khusus Soekarno-Hatta guna menjalani pemeriksaan komprehensif.

Langkah tegas ini mengirimkan sinyal kuat kepada publik bahwa kementerian baru di bawah arahannya berkomitmen penuh pada pembersihan institusi dan peningkatan pelayanan publik yang bersih.

Perjalanan hidup Jenderal Polisi (HOR) Agus Andrianto, S.H., M.H. memberikan pelajaran berharga mengenai esensi kepemimpinan yang berani dan responsif: bahwa pemahaman mendalam terhadap hukum yang dipadukan dengan ketegasan dalam mengeksekusi tindakan korektif adalah kunci utama untuk menegakkan wibawa negara di mata dunia.

Terakhir Agus menegaskan, Jika Wartawan Menulis, Jangan digubah sejarah ini, dengan mengutak atik bahasa melalui teknologi sekarang, kadang tidak sama dengan cerita sebenarnya.

(AF)

Berita Terkait

Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya
Gereja Tanpa Struktur Jelas? Jangan Heran Pelayanannya Kacau
Iman Jalan Pribadi, Bukan Titipan pada Tokoh Rohani
“Air Mata di Bawah Langit Fakfak: Saat Roh Kudus Menyentuh Hati yang Terluka”
Teduhnya Penantian di Bawah Langit Malam
Di Bawah Langit Kasuari: Perjalanan Sunyi Seorang Anak Papua
Bikin Kaget Gorontalo, Istri Ketum FRN Mendadak Jadi Kepsek
Jangan Salah Menilai: Pengenalan Dunia Jurnalis yang Sering Disalahpahami

Berita Terkait

Minggu, 7 Juni 2026 - 09:57 WIB

Raden AF, Mengupas Lagi Jendral AA, Terkenal Keberaniannya Mengeksekusi Anakbuahnya Merusak Bangsa

Kamis, 4 Juni 2026 - 19:52 WIB

Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya

Minggu, 31 Mei 2026 - 14:34 WIB

Gereja Tanpa Struktur Jelas? Jangan Heran Pelayanannya Kacau

Sabtu, 23 Mei 2026 - 17:32 WIB

Iman Jalan Pribadi, Bukan Titipan pada Tokoh Rohani

Senin, 18 Mei 2026 - 14:10 WIB

“Air Mata di Bawah Langit Fakfak: Saat Roh Kudus Menyentuh Hati yang Terluka”

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page