
Fakfak — Tokoh agama Kabupaten Fakfak, Haji Mustaqfirin, mengajak umat Islam untuk tidak sekadar memperingati Isra Mikraj Nabi Muhammad SAW secara seremonial, tetapi benar-benar mengambil makna spiritual dan sosial dari peristiwa tersebut.
Hal itu disampaikan Haji Mustaqfirin saat dikonfirmasi jurnalis TempoTimur.com di kediamannya di Jalan Cenderawasih, Kelurahan Fakfak Utara, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat, pada Rabu pagi (21/1/2026) sekitar pukul 07.55 WIT.
Menurutnya, peringatan Isra Mikraj yang setiap tahun dilaksanakan hendaknya menjadi momentum refleksi bagi umat Islam untuk memahami kembali esensi kewajiban salat lima waktu yang diterima Rasulullah SAW dalam peristiwa Isra dan Mikraj.
“Isra dan Mikraj mengajarkan kepada kita tentang kewajiban salat lima waktu. Salat adalah perintah wajib dan merupakan perintah yang sangat strategis dalam membangun kehidupan umat,” ujar Haji Mustaqfirin.
Ia menjelaskan, salat memiliki peran penting dalam membentuk peradaban yang bernuansa ilahiah. Sebuah peradaban yang baik, kata dia, harus dimulai dari moralitas yang sempurna, dan moralitas tersebut dapat dibentuk melalui pelaksanaan salat yang benar.
“Salat yang dilakukan umat Islam harus mampu mencegah pelakunya dari perbuatan keji dan mungkar. Jika salat belum bisa memberikan dampak tersebut, berarti salat itu belum dilaksanakan secara sempurna,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya konsentrasi, kekhusyukan, dan keikhlasan dalam menjalankan salat. Salat yang dilakukan dengan fokus dan khusyuk diyakini akan melahirkan individu-individu yang bermoral, yang pada akhirnya membentuk peradaban masyarakat yang aman dan damai.
“Apabila nilai-nilai salat benar-benar dihayati dan diamalkan dalam kehidupan sehari-hari, maka kondisi masyarakat akan tercipta dalam suasana aman dan nyaman. Ini juga menjadi indikator kuat terbangunnya toleransi dalam kehidupan beragama,” pungkasnya.
Penulis : Amatus Rahakbauw





















