Manokwari — Gubernur Papua Barat Drs. Dominggus Mandacan, M.Si menegaskan bahwa konferensi tahunan gereja tidak hanya bersifat seremonial keagamaan, tetapi memiliki peran strategis dalam menyelamatkan keluarga, memperkuat iman, serta mempersatukan seluruh elemen masyarakat di Papua Barat.
Penegasan tersebut disampaikan Dominggus Mandacan saat memberikan sambutan pada Perayaan Konferensi dan Tahun Baru 2025–2026 Gereja Persekutuan Kristen Alkitab Indonesia (GPKAI) Majelis Umum se-Indonesia, yang diselenggarakan melalui Majelis Daerah YMMN Leshim Mimbay, bertempat di Prafi, Kabupaten Manokwari, pada Jumat (2/1/2026).
Menurut Dominggus, konferensi gereja menjadi ruang refleksi iman sekaligus sarana membangun ketahanan keluarga di tengah berbagai tantangan sosial yang dihadapi masyarakat saat ini.
“Konferensi tahunan ini hadir untuk menyelamatkan keluarga. Allah hadir untuk menyelamatkan kita semua. Kita bersyukur karena telah melewati tahun 2025 dan memasuki tahun 2026, Tuhan masih memberikan panjang umur dan kesempatan bagi kita,” ujar Dominggus.
Ia mengajak seluruh jemaat untuk menjadikan iman sebagai dasar dalam menjalani kehidupan sehari-hari, baik dalam lingkup keluarga, pelayanan gereja, maupun dalam tugas pemerintahan dan kehidupan bermasyarakat.
Dalam kapasitasnya sebagai Gubernur Papua Barat sekaligus Kepala Suku Besar Arfak, Dominggus menegaskan pentingnya persaudaraan dan penerimaan terhadap semua suku yang hidup dan menetap di Papua Barat.
“Semua suku, semua yang datang dan tinggal bersama kita adalah bagian dari kita,” tegasnya.
Dominggus juga mengingatkan kembali sejarah masuknya Injil di Tanah Papua melalui penginjil Ottow dan Geissler yang pertama kali menginjakkan kaki di Pulau Mansinam pada 5 Februari 1855.
“Dengan doa yang pertama, Tanah Papua telah diberkati. Dari situlah kita keluar dari kegelapan menuju terang Injil Yesus Kristus. Kita jangan kembali ke belakang, tetapi terus maju melangkah,” katanya.
Ia menilai kehadiran Injil telah membawa perubahan besar bagi masyarakat Papua, termasuk dalam bidang pendidikan, kesehatan, pertanian, dan pemerintahan, sehingga masyarakat Papua kini sejajar dengan daerah lain di Indonesia.
“Kita sudah diberkati dan kita harus menjadi berkat bagi banyak orang, baik sebagai pejabat pemerintah, pejabat gereja, pejabat adat, maupun dalam keluarga,” ucapnya.
Dalam kesempatan tersebut, Dominggus juga menyampaikan apresiasi kepada seluruh suku dan kelompok masyarakat yang telah memberikan dukungan politik, sehingga putra-putri asli Papua dapat memimpin di tanahnya sendiri.
“Terima kasih kepada semua suku yang telah bersama-sama. Kita bisa menjadi tuan di negeri sendiri, memimpin diri kita sendiri, dan membawa perubahan,” katanya.
Lebih lanjut, Gubernur Dominggus menekankan pentingnya menjaga persatuan dan menyelesaikan setiap persoalan melalui musyawarah adat dan kekeluargaan, bukan melalui tindakan sepihak yang dapat memicu konflik sosial.
“Jika ada persoalan, panggil kepala kampung, tokoh adat, tokoh gereja, dan kepala suku. Duduk bersama dan selesaikan secara adat dan kekeluargaan, agar tidak mengganggu pendidikan, kesehatan, dan aktivitas kerja masyarakat,” pesannya.
Menutup sambutannya, Dominggus berharap konferensi gereja yang dilaksanakan sesuai Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) dapat menjadi forum evaluasi program kerja, sekaligus menyelaraskan pelayanan gereja dengan kemampuan dan dukungan pemerintah daerah.
“Sehingga tanggung jawab bersama dapat disesuaikan dengan kemampuan yang ada, demi pelayanan dan kesejahteraan umat,” tutupnya.
Penulis : Amatus Rahakbauw





















