Yesus Kristus menyerahkan nyawa-Nya di atas kayu salib pada usia tiga puluh tiga tahun, di sebuah tempat bernama Golgota—yang berarti Tempat Tengkorak. Di sanalah kasih Allah dinyatakan secara sempurna, bukan untuk menghukum manusia, melainkan untuk menebus dan memulihkan ciptaan-Nya.
Alkitab menegaskan bahwa manusia diciptakan untuk memuliakan Allah dan menikmati kasih karunia-Nya.
«“Sebab semua orang telah berbuat dosa dan telah kehilangan kemuliaan Allah, dan oleh kasih karunia telah dibenarkan dengan cuma-cuma karena penebusan dalam Kristus Yesus.”
(Roma 3:23–24)»
Dalam perenungan iman, tubuh manusia sering dipahami sebagai simbol rohani. Tulang belakang manusia yang tersusun dari banyak ruas mengingatkan kita pada perjalanan hidup—sebuah perjalanan iman yang bertumbuh, jatuh, dan bangkit kembali oleh anugerah Tuhan. Angka tiga puluh tiga, usia Yesus saat penyaliban, sering direnungkan oleh para penulis rohani sebagai simbol kedewasaan kasih dan pengorbanan yang sempurna.
Demikian pula, dua belas tulang rusuk di sisi tubuh manusia dapat menjadi gambaran simbolis tentang umat pilihan Allah—dua belas suku Israel dan dua belas murid yang dipanggil untuk menjadi terang bagi dunia.
«“Kamu adalah terang dunia… demikianlah hendaknya terangmu bercahaya di depan orang.”
(Matius 5:14,16)»
”Dalam tulisan ini tidak dimaksudkan sebagai ajaran medis atau doktrin gereja, melainkan sebagai ungkapan sastra rohani—sebuah metafora tentang kehidupan Kristus yang bekerja di dalam manusia melalui Roh Kudus. Seperti minyak urapan dalam Alkitab yang melambangkan kehadiran Allah, demikian pula hidup orang percaya dipenuhi oleh kuasa Roh Kudus yang menghidupkan, memulihkan, dan menuntun.
«“Tetapi kamu telah beroleh pengurapan dari Yang Kudus, dan dengan demikian kamu semua mengetahuinya.”
(1 Yohanes 2:20)»
Kristus memang mati, tetapi kematian-Nya bukan akhir. Pada hari ketiga Ia bangkit, mengalahkan maut dan memberi harapan baru bagi semua orang yang percaya kepada-Nya. Kebangkitan itu bukan hanya peristiwa sejarah, tetapi sumber kehidupan rohani bagi setiap manusia.
«“Akulah kebangkitan dan hidup; barangsiapa percaya kepada-Ku, ia akan hidup walaupun ia sudah mati.”
(Yohanes 11:25)»
Karena itu, apabila hari ini hati masih ragu, firman Tuhan mengundang kita untuk datang kepada Kristus. Ia bukan sekadar guru moral, melainkan Jalan, Kebenaran, dan Hidup.
«“Sebab hukum Taurat diberikan oleh Musa, tetapi kasih karunia dan kebenaran datang oleh Yesus Kristus.”
(Yohanes 1:17)»
Kiranya perenungan ini membawa pembaca semakin mengasihi Kristus, hidup dalam kasih karunia-Nya, dan memuliakan Allah melalui seluruh keberadaan hidup.
Penulis : Amatus Rahakbauw




















