Natal di Bawah Terpal Sunyi 

- Penulis

Minggu, 14 Desember 2025 - 21:53 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Malam Natal itu turun tanpa lonceng.
Tak ada cahaya gemerlap, tak ada meja panjang dengan roti dan anggur.
Yang ada hanyalah angin dingin yang menyusup melalui robekan terpal, dan tangis yang ditelan gelap.

Kami merayakan kelahiran Sang Juru Selamat di bawah tenda-tenda pengungsian, di atas tanah yang bukan lagi milik kami, di antara bau lumpur, debu, dan luka yang belum kering.

Anak-anak menggigil sambil memeluk lututnya, mata mereka bertanya tanpa suara: “Apakah Tuhan juga datang ke tempat seperti ini?”

Ibu-ibu menatap kosong ke arah api kecil yang hampir padam. Di dalam dadanya, doa-doa bertabrakan dengan rasa lapar. Mereka tak lagi meminta keajaiban, cukup esok hari ada nasi, cukup anak-anak mereka masih bernapas.

Baca Juga  Gemuk Struktur, Miskin Fungsi

Namun di kejauhan, Natal dirayakan dengan pesta dan pidato, dengan tawa yang keras dan gelas yang penuh.

Manusia-manusia angkuh berdiri di balik mimbar kekuasaan,
berkata tentang kesejahteraan
sambil menutup mata dari kami
yang hidup di sisa-sisa janji.

Mereka lupa bahwa Yesus lahir di palungan, bukan di istana. Bahwa kasih sejati tak tumbuh dari kemewahan, melainkan dari keberanian menoleh kepada yang menderita.

Kami ini bukan angka dalam laporan,
bukan berita musiman yang cepat dilupakan. Kami adalah manusia kecil
yang dipaksa diam oleh kekuasaan,
yang ditinggalkan oleh nurani.

Malam semakin larut. Di tenda paling ujung, seorang anak menyanyikan lagu Natal dengan suara patah-patah.
Tak ada nada yang sempurna,
namun setiap baitnya adalah teriakan jiwa yang menembus langit.

Baca Juga  Tuhan, Apakah Semua Ini Memang Nasib Beta?

“Damai di bumi…”
Damai yang entah di mana.

Jika Natal masih punya makna,
biarlah ia lahir kembali di sini—
di antara orang-orang yang tak diperhitungkan, di tengah jeritan yang tak didengar.

Dan jika kalian masih menyebut diri manusia, berhentilah menjadi durhaka terhadap sesama. Sebab Tuhan tak tinggal di gedung megah. Ia ada di tenda-tenda kami, bersama air mata yang kalian abaikan.

Natal bukan tentang terang yang kalian nyalakan, tetapi tentang gelap yang kalian pilih untuk tidak pedulikan.

Penulis : Amatus Rahakbauw

Berita Terkait

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan
Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku
Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif
Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya
Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa
Agus Flores Nobar FIFA 2026 Bersama Kapolda Jabar dan Jajaran Dukung Program Kapolri
Jurnalis dan Nurani Kebenaran: Saat Pena Menjadi Cahaya Peradaban
Senja yang Pergi, Bulan yang Menemani

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:03 WIB

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:35 WIB

Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:13 WIB

Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:51 WIB

Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page