Catatan Seorang Jurnalis di Ujung Tahun 2025
Tuhan… apakah semua ini memang sudah Beta punya nasib?
Sebagai seorang jurnalis, Beta terbiasa menyusuri lorong-lorong gelap dunia malam—merekam cerita yang jarang orang mau lihat, apalagi percaya. Dunia malam selalu penuh bayang-bayang, tapi malam itu, bayangan yang Beta lihat bukan lagi bagian dari liputan. Itu bayangan Beta sandiri.
Saat Beta berjalan di antara lampu-lampu yang setengah padam, suasana terasa asing. Bukan karena tempat itu belum pernah Beta masuki, tetapi karena hati Beta terasa jauh—seperti Beta sedang melihat hidup Beta dari kejauhan.
Entah bagaimana, malam itu Ko seperti pigi kastingal Beta sandiri.
Ko menjauh perlahan, tanpa suara, meninggalkan Beta dengan langkah yang terasa makin berat. Dan Beta hanya bisa berdiri, bertanya dalam hati:
“Tuhan… kenapa harus begini?”
Di penghujung tahun 2025, ketika semua orang sibuk menutup kalender dengan tawa, Beta justru merasa seperti baru membuka pintu kehilangan. Dunia malam yang biasanya hanya Beta liput, kini seperti mencatat balik kisah Beta—tentang seorang jurnalis yang berjalan sendirian, mencoba memahami takdir yang kadang terlalu sulit untuk diterjemahkan.
Beta tidak tahu apakah ini cobaan atau tanda untuk memulai sesuatu yang baru.
Beta hanya tahu: perjalanan ini belum selesai.
Tuhan, kalau benar semua ini Beta punya nasib… ajar Beta untuk tetap kuat menjalani akhir tahun ini, hingga Beta menemukan cahaya baru di awal yang berikut.
Penulis : Amatus Rahakbauw




















