Di sebuah ruang yang tak terjangkau oleh waktu, orang-orang berdiri berbaris di hadapan takhta Tuhan. Wajah mereka penuh harap. Ada yang menenteng cerita tentang pelayanan, ada yang membawa kenangan tentang apa yang pernah ia lakukan di dunia.
Di tengah kerumunan itu, berdirilah seorang pria bernama Samuel. Semasa hidupnya, ia dikenal aktif di gereja. Hampir setiap minggu ia tampil, memimpin, dan berbicara lantang tentang kebaikan Tuhan. Bibirnya fasih menyebut nama-Nya.
Saat gilirannya tiba, Samuel melangkah maju. Dengan suara penuh keyakinan, ia berkata:
“Tuhan… aku sudah melayani-Mu.
Aku sudah melakukan banyak hal demi nama-Mu.”
Ia menunggu sambutan Tuhan. Ia membayangkan sebuah pelukan hangat, atau ucapan selamat atas semua yang ia kerjakan.
Namun yang terdengar adalah suara lembut, namun penuh ketegasan:
“Anak-Ku… Aku tidak mengenal engkau.”
Samuel tertegun. Kata-kata itu mengguncang hatinya.
“Tidak mengenalku, Tuhan? Bukankah aku aktif dalam pelayanan-Mu? Bukankah nama-Mu selalu kusebut?”
Suasana hening. Dalam keheningan itu, Tuhan berbicara seperti ayah menegur anak yang dikasihi.
“Engkau memang melakukan banyak hal,
tetapi hatimu jauh dari-Ku.
Pelayananmu bukan lahir dari kasih,
melainkan dari keinginan dipuji manusia.”
Kilasan hidup Samuel terbayang.
Ia ingat betapa sering ia melayani demi dilihat banyak orang.
Ia ingat betapa ia marah bila tak mendapatkan penghargaan.
Ia ingat bahwa ia jarang berdoa—kecuali saat hendak tampil.
Tuhan melanjutkan:
“Aku melihat hati, bukan hanya pekerjaan tangan.
Aku mencari ketulusan, bukan sekadar aktivitas.
Aku mengenal orang-orang yang berjalan dengan-Ku
setiap hari, dalam kasih dan kebenaran.”
Di sisi lain ruangan, tampak seorang perempuan tua berdiri. Ia tak dikenal siapa-siapa. Semasa hidupnya, ia bukan pengkhotbah, bukan pemimpin, bukan tokoh gereja. Namun ia mengasihi diam-diam: menolong tetangga lapar, berdoa untuk anak-anak yang bukan keluarganya, mengunjungi orang sakit tanpa pernah mempostingnya di mana pun.
Saat Tuhan memanggilnya, wajah-Nya berseri:
“Engkau milik-Ku.
Aku mengenal engkau.”
Perempuan itu menangis bahagia, sementara Samuel tertunduk, menyadari sesuatu yang selama ini ia abaikan.
Cerita itu tak hanya tentang mereka—tetapi tentang kita semua.
Bahwa di hadapan Tuhan, yang bernilai bukan seberapa banyak kita tampil, tetapi seberapa dalam kita mengasihi.
Sebab pelayanan sejati bukan untuk memuaskan mata manusia,
tetapi untuk menyentuh hati Tuhan.
Dan bagi mereka yang melayani dengan kasih yang tulus,
Tuhan selalu berkata:
“Engkau milik-Ku. Aku mengenal engkau.”
Penulis : Amatus Rahakbauw










