Malam itu, angin dari laut Selatan tiup pelan masuk lewat jendela bambu rumah kecil di pesisir Manokwari. Di meja kayu, masih ada dua cangkir kopi — satu masih hangat, satu su dingin dari sore. Di sanalah, Yopi duduk diam, pandang kosong ke arah jalan yang mulai sepi.
Dia ingat pertama kali ketemu Ana di pasar Wosi. Ana jual pinang dan sirih, rambutnya dikuncir sederhana, tapi senyumnya bikin jantung Yopi rasa mau lompat keluar. Dari situ, tiap Sabtu pagi, Yopi pura-pura ke pasar beli garam padahal cuma mau liat Ana.
Waktu berlalu, tong dua makin dekat. Sore-sore, Yopi antar Ana pulang dari pasar naik motor tuanya, Honda Astrea yang su lelah tapi masih setia. Di jalan, tong dua biasa nyanyi lagu “Beta Janji” pelan-pelan, sambil ketawa. Ana selalu bilang, “Ko jangan cuma janji manis, Yopi. Cinta itu harus bukti, bukan kata.”
Yopi percaya dia bisa bukti. Dia kerja keras di bengkel, simpan sedikit demi sedikit, rencana mau lamar Ana kalau uang su cukup. Tapi Tuhan kadang kasih jalan lain.
Suatu hari, Ana bilang dia harus ikut keluarganya pindah ke Nabire. Ayahnya sakit, dan mama bilang mereka harus tinggal di sana. Yopi rasa dunia runtuh malam itu. Dia cuma bisa bilang, “Ko pi baik-baik, Ana. Beta tunggu ko di sini, sampe kapan pun.”
Bulan berganti tahun. Ana jarang kasih kabar. Pesan yang dikirim kadang dibaca, kadang tidak. Sampai satu hari, lewat teman, Yopi dengar kabar Ana su menikah. Dia diam saja waktu dengar. Hati macam disiram minyak tanah lalu dibakar pelan-pelan.
Sejak itu, tiap sore Yopi duduk di pinggir pantai, lihat matahari turun di ufuk barat. Tempat di mana tong biasa duduk berdua, sekarang cuma tinggal bayang dan kenangan. Cinta yang dulu tumbuh kuat macam batu karang, sekarang su rapuh, su hancur — jadi debu, terbawa angin laut.
Tapi Yopi tidak benci. Dia bilang dalam hati,
“Cinta bukan soal siapa yang tinggal sampai akhir, tapi siapa yang buat beta rasa hidup waktu dia ada.”
Dan malam itu, sebelum dia tutup jendela, Yopi tiup pelan sisa abu rokok di asbak — abu itu beterbangan keluar jendela, hilang dalam angin.
“Tong punya cinta su jadi debu,” bisiknya pelan.
Tapi dalam debu itu, masih tersisa cahaya kecil… kenangan yang tak akan hilang.
Penulis : Amatus Rahakbauw. K




















