Di sebuah kota kecil, cinta seorang wanita menjadi perebutan. Para pria berlomba menampilkan diri seolah paling hebat, paling pantas. Ada yang berlagak kaya, padahal untuk membeli rokok pun sulit. Ada yang mengaku mampu, namun bensin untuk motornya saja sering ia pinjam dari temannya.
Mereka saling menjatuhkan, saling merendahkan, seakan cinta hanyalah arena pertarungan harga diri. Tak segan mereka menuduh dan meremehkan pria lain yang sesungguhnya hidup sederhana namun jelas arah profesinya, jujur dalam langkahnya.
Pria itu hanya tersenyum tipis, memandang drama aneh di sekelilingnya. Dalam hati ia berbisik lirih, “Puji Tuhan… biarlah aku mundur dengan teratur.” Ia memilih pergi, meninggalkan pertarungan yang dipenuhi keangkuhan.
Namun sang wanita justru mempercayai pria yang menjatuhkan dengan tipu daya dan rayuannya. Hatinya tertutup oleh sandiwara, bahkan terbawa oleh gemerlap dunia maya yang menipu di TikTok.
Dan pria yang memilih mundur itu… melangkah dengan senyum getir, meski hatinya hancur. Senyum itu bukan tanda bahagia, melainkan kepasrahan. Ia sadar, cinta sejati tak pernah lahir dari saling menindas.
Di balik senyum yang tenang itu, ada air mata yang tak terlihat—air mata seorang lelaki yang tahu kapan harus melepaskan.
Penulis : Amatus.Rahakbauw. K



















