
SEMARANG — Wisuda bukan garis akhir. Di balik toga dan tepuk tangan, para lulusan Politeknik Katolik (Polteka) Mangunwijaya Semarang justru diingatkan bahwa kehidupan setelah kampus akan menghadirkan tantangan yang lebih keras.
Pesan itu disampaikan Direktur Polteka Mangunwijaya Semarang, Dr. Yohanes Yupilustanaji A., M.Hum., saat mewisuda 79 mahasiswa Tahun Akademik 2025/2026 dalam Wisuda ke-9 dan Angkat Sumpah di Quest Hotel Simpang Lima Semarang, Sabtu, 26 September 2026.
“Pujian itu sangat membahayakan karena masa depan itu tidak mudah. Kita akan bertempur dan berjuang secara luar biasa karena penuh tantangan dan rintangan,” kata Yohanes dalam sambutannya.
Menurut Yohanes, pujian dan tepuk tangan dapat membuat seseorang terlena. Karena itu, para lulusan diminta tidak menjadikan keberhasilan hari wisuda sebagai alasan untuk berhenti berjuang.
Ia menekankan satu pesan yang harus terus dibawa para lulusan ketika meninggalkan kampus: jangan menyerah.
“Banyak mahasiswa di awal-awal kuliah merasa ingin menyerah karena ada mata kuliah yang sulit dan banyak praktikum. Dua kata yang harus dipertahankan yakni jangan menyerah,” ujarnya.
Sebanyak 79 mahasiswa yang diwisuda berasal dari tiga program studi. Sebanyak 17 orang merupakan lulusan Teknik Kimia, 49 orang dari Farmasi, dan 13 orang dari program studi Kesehatan.
Yohanes bersyukur proses pendidikan yang dijalani mahasiswa tidak hanya menghasilkan kelulusan, tetapi juga memberikan kompetensi melalui berbagai tantangan akademik.
Kesulitan dalam perkuliahan, termasuk mata kuliah dan praktikum, menurut dia, menjadi bagian dari proses pembentukan mental mahasiswa agar lebih siap menghadapi rintangan dan tantangan setelah lulus.
“Para wisudawan dan wisudawati boleh bersyukur karena levelnya meningkat dalam mentalitas yang kokoh untuk menghadapi rintangan dan tantangan saat ini dan saat mendatang,” katanya.
Pesan tentang keberanian juga disampaikan Ketua Yayasan Bernardus yang menaungi Polteka Mangunwijaya, Romo Y. Deni Sulistiawan, Pr.
Deni mengapresiasi para dosen yang telah mendidik generasi muda agar mampu bertumbuh dan mempersiapkan diri mengarungi kehidupan.
Yayasan Bernardus yang berada di bawah Keuskupan Agung Semarang, kata dia, mengembangkan semangat keberanian untuk menyatakan kebenaran.
Namun, keberanian saja tidak cukup.
“Keberanian tanpa kompetensi dan nilai karakter yang dihidupi adalah konyol. Membela kebenaran tanpa bekal apa pun adalah kekonyolan,” ujar Deni.
Ia mengatakan keberanian perlu berjalan bersama kompetensi dan sikap humanis terhadap sesama. Dengan bekal tersebut, para lulusan diharapkan mampu menjadi generasi yang berani sekaligus memiliki kemampuan dan karakter.
“Bekal keberanian untuk mendidik orang-orang benar dilengkapi dengan kompetensi dan sikap humanis terhadap sesama. Jadilah generasi pemberani,” katanya.
Dalam prosesi tersebut, Direktur Polteka Mangunwijaya memberikan penghargaan kepada wisudawan dan wisudawati terbaik dari masing-masing program studi.
Rangkaian acara diawali dengan pembukaan sidang senat terbuka dan dilanjutkan dengan prosesi Wisuda ke-9 serta Angkat Sumpah.
Penulis : Amartus Rahakbauw K





