PERISTIWA — Tahun 1005 Masehi memperlihatkan wajah dunia yang sangat berbeda-beda. Di satu sisi ada wilayah yang porak-poranda karena perang dan bencana. Di sisi lain ada wilayah yang justru sedang naik daun dalam ilmu, dagang, dan seni. Tahun ini menjadi bukti bahwa sejarah tidak berjalan seragam di setiap benua.
Di benua Eropa, abad ke-11 masih suram. Kekaisaran Romawi Suci di bawah Kaisar Heinrich II sibuk dengan politik gereja dan ekspedisi militer ke Polandia. Sementara itu Inggris mengalami masa paling kelam. Di bawah Raja Æthelred II, negeri itu dihantam “The Great Famine” selama dua tahun. Gagal panen dan wabah membuat ribuan orang meninggal. Belum cukup, ancaman Viking memaksa kerajaan membayar “Danegeld” atau upeti mahal demi keamanan.
Berbanding terbalik, Dunia Islam justru bersinar. Meski Kekhalifahan Abbasiyah di Baghdad hanya simbolis di bawah Khalifah Al-Qadir, pusat ilmu tetap hidup. Dinasti Buwaihi yang berkuasa mendukung para cendekiawan. Di Kairo, Khalifah Al-Hakim dari Fatimiyah membangun Masjid Al-Hakim dan Perpustakaan Darul Hikmah. Di timur, Sultan Mahmud dari Ghazna memulai penaklukan ke India. Dari sinilah Islam mulai masuk dan berakar kuat di anak benua India.
Asia Timur mencatat sejarah damai. Kaisar Zhenzong dari Dinasti Song menandatangani “Perjanjian Chanyuan” dengan Dinasti Liao. Perjanjian ini menghentikan perang dan membuka 100 tahun stabilitas bagi Tiongkok untuk maju di bidang ekonomi dan teknologi. Di waktu yang sama, Dinasti Chola di India Selatan di bawah Raja Rajaraja I menguasai lautan dengan armada dagangnya. Di Jepang, masa Heian melahirkan karya sastra legendaris “The Tale of Genji” di istana Kaisar Ichijo.
Nusantara juga tidak ketinggalan. Tahun 1005, Kerajaan Mataram Kuno di Jawa Tengah masih kuat di bawah Raja Dharmawangsa Teguh. Beberapa tahun kemudian pusatnya baru pindah ke Jawa Timur. Di Sumatra, Kerajaan Sriwijaya terus berjaya sebagai poros perdagangan dunia. Dengan menguasai Selat Malaka, Sriwijaya menjadi penghubung dagang antara Tiongkok, India, dan Arab. Para ahli sejarah menyebut 1005 sebagai tahun kontras: saat Eropa terpuruk, Asia dan Dunia Islam justru meletakkan fondasi peradaban baru.
Referensi:
1. Durant, Will. _The Age of Faith_. Simon & Schuster, 1950.
2. Hansen, Valerie. _The Open Empire: A History of China to 1600_. W.W. Norton, 2000.
3. Bosworth, C.E. _The Ghaznavids_. Edinburgh University Press, 1963.
4. Hall, D.G.E. _A History of South-East Asia_. Macmillan, 1981.
5. National Geographic History. “The World in 1005”. Edisi Khusus Abad Pertengahan.
Penulis : Red










