MANOKWARI — Pemerintah Provinsi Papua Barat memberikan apresiasi tinggi kepada Dr. Meriance Kelieli, lulusan baru Program Doktor Universitas Papua (Unipa), atas penelitian strategisnya mengenai pengelolaan ikan pelangi Arfak (Melanotaenia arfakensis Allen, 1990) berdasarkan aspek ekologi, struktur komunitas, dan genetik di perairan tawar Kebar, Kabupaten Tambrauw.
Ujian terbuka disertasi tersebut berlangsung di Kampus Unipa, Manokwari, Jumat (10/10/2025), dengan Prof. Dr. Ir. Rony Bawole, M.Si. sebagai promotor utama. Hadir dalam kegiatan itu Asisten II Setda Papua Barat, Melkias Werinussa, SE, mewakili Gubernur Papua Barat, serta Rektor Unipa, Dr. Hugo Warami.
Penelitian yang dilakukan Dr. Meriance menjadi salah satu kajian penting dalam upaya pelestarian spesies endemik Papua Barat yang kini terancam akibat perubahan ekosistem dan aktivitas manusia di wilayah perairan Kebar.
“Ikan pelangi Arfak merupakan kebanggaan kita. Melalui penelitian ini saya ingin memberikan kontribusi ilmiah bagi pengelolaan dan konservasi spesies endemik ini secara berkelanjutan,” ujar Dr. Meriance Kelieli dalam wawancaranya kepada Tempotimur.com, Kamis malam (9/10/2025).
Sementara itu, promotor utama, Prof. Dr. Rony Bawole, menilai penelitian tersebut sebagai prestasi membanggakan dan berdampak nyata bagi ilmu pengetahuan dan pelestarian lingkungan di Papua Barat.
“Ini prestasi luar biasa ketika anak-anak Unipa meneliti hal-hal yang spesifik dan endemik di tanah ini, seperti ikan pelangi. Ini kebanggaan bagi kita semua, apalagi dilakukan oleh anak-anak negeri sendiri,” ungkap Prof. Bawole.
Ia menambahkan, penelitian ini menunjukkan kolaborasi nyata antara sains, alam, dan masyarakat dalam menjaga kekayaan hayati Papua.
“Konservasi dan sumbangan keilmuan yang diberikan oleh Dr. Meriance sangat luar biasa, sebagai wujud kepedulian terhadap pelestarian sumber daya ikan di tanah ini,” tambahnya.
Perwakilan Pemerintah Provinsi Papua Barat yang hadir juga menyampaikan apresiasi atas keberhasilan Dr. Meriance, yang merupakan Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Pemprov Papua Barat.
“Kami sangat bangga atas pencapaian ini. Hasil penelitian tersebut sejalan dengan komitmen pemerintah dalam menjaga kelestarian spesies endemik dan mengendalikan degradasi lingkungan,” ujar Asisten II Setda Papua Barat, Melkias Werinussa, mewakili gubernur.
Ia menegaskan, pemerintah mendukung adanya regulasi yang kuat untuk melindungi habitat ikan pelangi Arfak, tanpa menghambat kesejahteraan masyarakat sekitar.
“Konservasi harus berjalan seiring dengan pertumbuhan ekonomi masyarakat. Regulasi lingkungan perlu diperkuat, namun tetap memperhatikan aspek sosial ekonomi warga,” tegasnya.
Pemerintah Provinsi Papua Barat juga berkomitmen meningkatkan kualitas sumber daya manusia (SDM) melalui pendidikan tinggi dan riset ilmiah.
“Prestasi Dr. Meriance menjadi motivasi bagi ASN lainnya untuk menempuh pendidikan lanjut. Ia adalah contoh nyata bagaimana ilmu pengetahuan dapat memberi manfaat bagi lingkungan dan masyarakat,”
ujarnya.
Penelitian berjudul “Strategi Pengelolaan Ikan Pelangi Arfak (Melanotaenia arfakensis Allen, 1990) Berdasarkan Aspek Ekologis, Struktur Komunitas, dan Genetik di Perairan Tawar Kebar” ini menyoroti penurunan populasi ikan pelangi Arfak akibat aktivitas penambangan dan degradasi habitat.
Melalui pendekatan ekologi dan genetika, hasil penelitian ini diharapkan menjadi referensi ilmiah dan dasar kebijakan pemerintah daerah dalam pengelolaan serta konservasi ikan endemik Papua Barat secara berkelanjutan.
Penulis : Amatus Rahakbauw. K






















