Cerpen;
Di suatu malam yang sunyi, seorang lelaki duduk termenung di depan layar ponselnya. Ia menumpahkan isi hatinya di dunia maya—tempat di mana harapan dan luka seringkali bertemu.
“Aku mencintainya dengan tulus,” tulisnya dalam sebuah unggahan.
Namun, cintanya tak bersambut. Malah, isi hatinya itu menjadi bahan tertawaan banyak orang. Di kolom komentar, orang-orang mencibir dan menyindirnya.
Tapi lelaki itu hanya tersenyum. Dengan tenang, ia menulis lagi:
“Aku bersyukur… Cintaku ditilang sebelum terlalu jauh. Mungkin karena aku hanya seorang lelaki pengangguran yang tak punya apa-apa.”
Kata-katanya sederhana, tapi penuh makna. Ia tak marah. Ia tak menyesal. Ia hanya menerima kenyataan dengan lapang dada.
Beberapa waktu kemudian, ia bertemu dengan seorang pria. Penampilannya rapi, ucapannya manis, tapi sayang—hidupnya diisi dengan memfitnah orang lain. Ia menjelekkan banyak orang untuk menutupi borok dirinya sendiri.
Lelaki itu menyadari sesuatu.
“Ternyata lebih baik menjadi pengangguran yang jujur, daripada hidup berpura-pura dan melukai banyak hati,” gumamnya.
Dunia maya kadang kejam, tapi dari sanalah ia belajar. Ia mungkin belum sukses secara dunia, tapi hatinya tetap bersih. Ia tahu:
Cinta yang sejati tak akan tertawa atas luka orang lain.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K











