Manggarai Barat — Pilkada Manggarai Barat kian mendekat menuju pesta demokrasi 27/11/2024, masyarakat mabar bersuka cita karena sejatinya Momentum Pemilihan Umum Kepala Daerah ( Pilkada) adalah dimana masyarakat mandiri dalam berdemokrasi.
Berbagai carapun dilakukan oleh para pendukung pasangan calon (Paslon) Bupati dan Wakil Bupati Manggarai Barat, Mario Pranda-Richard Sontani atau yang dikenal Mario-Richard, untuk mengekspresikan rasa cinta dan dukungan mereka kepada calon kebanggaan mereka.
Seperti yang mereka tunjukkan saat kampanye Mario-Richard di Kampung Karot, Kelurahan Tangge, Kecamatan Lembor, Kamis (7/11/1024) sore.
Paslon nomor urut 01 Mario-Richard itu dijemput dengan pawai pasukan berkuda oleh warga setempat.
Pawai itu semakin semarak dengan tiga ekor kuda yang ditunggangi tiga pria mengenakan pakaian adat lengkap memimpin rute pawai.
Selain di Kelurahan Tangge, di Desa Ngancar Kampung Poco Koe juga dilaksanakan penjemputan serupa.
Dari video dan foto yang diperoleh Tempotimur.Com, Mario Pranda mengenakan baju kaos berwarna putih nampak gagah Menunggangi seekor kuda menuju lokasi kampanye.
Selama kampanye Mario-Richard di Kecamatan Lembor sambutan dan antusiasme masyarakat sangat tinggi. Hal ini terlihat dari banyaknya masyarakat hadir dan menanti Mario-Richard di setiap titik kampanye di wilayah tersebut.
Kordinator Kecamatan (Korcam) Lembor, Hilarius Bius menilai hal ini sebagai bukti kuat bahwa Mario-Richard sangat dicintai oleh masyarakat di Manggarai Barat.
“Momentum ini, kita lihat bahwa Mario Pranda dan Richard Sontani ini sangat diterima dihati dan dicintai masyarakat Manggarai Barat,” ujar Hilarius.
Hilarius membeberkan alasan masyarakat setempat menjemput rombongan Mario-Richard dengan pasukan berkuda saat melaksanakan kampanye di wilayah Lembor. Ia menyebut konsep itu bukan dari panitia melainkan spontanitas dari pendukung tingkat kampung hingga kecamatan.
Ia menjelaskan alasan disambut pasukan berkuda tersebut untuk menarik energi baru. Selain itu, kata Hilarius, penjemputan dengan menggunakan kuda juga mau melestarikan kembali budaya Manggarai yang sudah lama menghilang. Sahutnya
“Konsep ini bukan dari panitia tapi spontanitas dari tingkat Korkam, latar belakangnya untuk menarik energi baru, jika Mario tunggang kuda ada energi baru yang muncul,” jelasnya.
“Lalu kita juga mau melestarikan penjemputan menggunakan kuda itu tidak hilang. Ini adalah salah satu cara bagaimana dari sisi budaya tidak bisa hilang, dan dan kembali dibangkitkan bagian dari budaya kita” imbuhnya.
Menurut Hilarius masyarakat setempat sangat antusias dengan tradisi tersebut dengan merefleksi kembali kebudayaan yang sudah lama hilang.
“Dalam arti menarik anak muda untuk mengingat kembali di mana pada zaman dahulu kuda ini memiliki peran penting. Kuda telah memainkan peran penting dalam kebudayaan Manggarai zaman dulu, di antaranya sebagai hewan tunggangan, penarik, dan pengangkut. Kuda juga dianggap sebagai simbol kebebasan, kecerdasan, dan kekuatan,” pungkasnya.
(Ricky)



















