Jakarta — Sebanyak 35 anggota Parlemen Uni Eropa mendesak Komite Etik FIFA untuk menyelidiki Presiden FIFA, , atas dugaan pelanggaran etika organisasi menyusul kontroversi penangguhan sanksi kartu merah terhadap pemain tim nasional Amerika Serikat.
Desakan tersebut muncul setelah Infantino mengungkapkan bahwa dirinya sempat berkomunikasi dengan Presiden Amerika Serikat, di saat yang sama, FIFA memutuskan menangguhkan sanksi kartu merah yang diterima Balogun sehingga pemain tersebut dapat kembali tampil pada babak 16 besar.
Infantino menyatakan penangguhan sanksi merupakan keputusan Komite Disiplin FIFA yang harus dihormati. Namun, ia tidak menjelaskan pihak yang mengajukan atau memprakarsai sidang Komite Disiplin tersebut.
Keputusan itu memicu kritik dari sejumlah anggota Parlemen Uni Eropa yang menilai proses pengambilan keputusan FIFA tidak transparan. Mereka mempertanyakan kemungkinan adanya pengaruh politik dalam kebijakan tersebut, meski hingga kini belum ada bukti resmi yang menunjukkan adanya intervensi langsung.
Anggota Parlemen Uni Eropa, , , dan menyebut keputusan FIFA sebagai preseden buruk yang dinilai mencederai prinsip keadilan dalam olahraga.
“Sekali lagi, kita telah melihat Gianni Infantino dan FIFA menyerah pada tuntutan pemerintahan Donald Trump,” demikian pernyataan para anggota Parlemen Uni Eropa yang dikutip dari ESPN.
Mereka juga mengajak anggota untuk mendorong Komite Etik FIFA melakukan penyelidikan independen terhadap dugaan keterkaitan antara keputusan FIFA dan komunikasi Infantino dengan Presiden AS.
Dalam pernyataan tertulis tersebut disebutkan sebanyak 35 anggota Parlemen Uni Eropa telah menandatangani surat dukungan yang mendesak Komite Etik FIFA segera mengambil langkah penyelidikan.
“Keindahan olahraga terletak pada aturan yang tidak memihak dan transparan. Ketika Infantino membiarkan tekanan politik menentukan siapa yang boleh bermain, rasa keadilan ini hilang,” demikian pernyataan para anggota Parlemen Uni Eropa.
Penulis : Amatus Rahakbauw, K




















