Cinta yang Tersapu Hujan

- Penulis

Sabtu, 13 September 2025 - 19:21 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Hujan sore itu turun tanpa henti, seakan langit pun mengerti betapa rapuhnya hatiku. Di bawah derasnya air yang jatuh, aku berdiri sendiri, memandang jalan yang pernah kita lalui bersama. Setiap tetes hujan bagai mengetuk luka, mengingatkanku bahwa kisah cinta yang ku anggap abadi ternyata tak mampu bertahan melawan badai.

Kita pernah begitu bahagia, bukan?
Masih kuingat saat pertama kali kau hadir. Senyummu sederhana, namun mampu menyalakan cahaya di hatiku yang lama terjebak dalam kesunyian. Kita berjalan berdua, menulis mimpi, dan menata hari-hari dengan keyakinan bahwa cinta ini akan tumbuh semakin kuat. Aku percaya, kau pun merasakan hal yang sama.

Namun, cinta tak selalu berjalan sesuai harapan. Badai datang tanpa pernah diminta. Perbedaan yang dulu terasa indah berubah menjadi jurang yang tak lagi bisa kita seberangi. Janji-janji yang kita ucapkan pelan-pelan runtuh, seperti dedaunan kering yang tak sanggup melawan angin. Dan pada akhirnya, perpisahan menjadi satu-satunya kata yang mampu kita pilih.

Baca Juga  Sebuah Diskotik Papan Atas Kelas Satu di Jakarta

Hari itu, aku melihat punggungmu menjauh. Aku ingin berlari, memelukmu, dan berteriak bahwa aku tak sanggup kehilanganmu. Namun kakiku kaku, suaraku tercekat. Aku hanya bisa diam, membiarkan hujan menyembunyikan air mata yang jatuh tanpa bisa kucegah. Rasanya, seluruh duniaku runtuh.

Aku tersesat, kehilangan arah. Hidupku seperti perahu kecil yang terombang-ambing di lautan luas tanpa kompas. Pertanyaan demi pertanyaan menyesakkan dada: Mengapa harus berpisah? Bukankah kita pernah berjanji untuk bertahan?

Tapi waktu mengajarkanku sesuatu yang tak pernah aku sadari sebelumnya. Bahwa cinta sejati bukan hanya tentang memiliki, melainkan juga tentang merelakan. Bahwa keindahan cinta tidak hanya terletak pada saat kita bersama, tetapi juga pada keberanian menerima kenyataan ketika harus berpisah.

Baca Juga  Ketua Perisai Limapuluh Pesisir Nilai Polres Batu Bara Pantas Diapresiasi

Kini, setelah luka itu perlahan mengering, aku belajar memandang hujan dengan cara berbeda. Hujan tak lagi sekadar simbol kehilangan, melainkan pengingat bahwa setelah badai selalu ada pelangi. Hatiku yang dulu runtuh kini belajar berdiri kembali, lebih kuat, lebih dewasa.

Aku sadar, meski cintaku padamu pupus, hidup tak berhenti. Dari perpisahan inilah aku belajar untuk menghargai diriku sendiri, menemukan kekuatan baru, dan menata langkah menuju masa depan yang lebih indah.

Cinta sejati, ternyata, tak pernah benar-benar hilang. Ia hanya berdiam di sudut hati, menunggu saat yang tepat untuk kembali hadir dalam bentuk yang lebih tulus.

Dan bila suatu saat aku kembali jatuh cinta, aku ingin mencintai tanpa takut kehilangan, sebab aku tahu: cinta bukan hanya tentang bertahan bersama, tapi juga tentang keberanian untuk terus berjalan meski jalan itu harus ku tempuh sendiri.

Baca Juga  Tempat Kelahiran yang Selalu di Hati

Mbah, cerita ini sudah saya buat panjang dan bernuansa sedih, tapi tetap memberi pesan motivasi agar pembaca muda-mudi bisa belajar tentang arti cinta dan perpisahan.

Penulis : Amatus.Rahakbauw.K

Berita Terkait

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan
Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 
Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran
Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 
Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara
Salut, Pansus Plasma HGU Perkebunan di Batu Bara Terbentuk 
Raden AF, Mengupas Lagi Jendral AA, Terkenal Keberaniannya Mengeksekusi Anakbuahnya Merusak Bangsa
Pemenang Sejati Tidak Menjual Nuraninya

Berita Terkait

Senin, 22 Juni 2026 - 13:07 WIB

Antara Perjuangan dan Sebatas Pelengkap Kepentingan

Sabtu, 20 Juni 2026 - 16:08 WIB

Mengurai Problem Loyalitas di Pemerintahan Batu Bara 

Rabu, 17 Juni 2026 - 20:57 WIB

Kesombongan Seorang Jurnalis: Ketika Ego Membunuh Kebenaran

Senin, 15 Juni 2026 - 10:05 WIB

Pulau Pandang dan Segenggam Kekuasaan 

Kamis, 11 Juni 2026 - 09:13 WIB

Menunggu Jurus Pansus Plasma DPRD Batu Bara

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page