Labuan Bajo — Gelombang protes terus terjadi di berbagai daerah di Indonesia, gelombang demonstrasi yang mengguncang Jakarta sejak Senin, 25 Agustus 2025, ikut menjadi perhatian masyarakat di berbagai daerah, termasuk masyarakat di Kabupaten Manggarai Barat, Propinsi Nusa Tenggara Timur (NTT).
Aksi demonstrasi ini bermula dari naiknya gaji dan tunjangan anggota Dewan (DPR RI) di tengah kesulitan dan himpitan ekonomi rakyat dan berujung pada tragedi. Naasnya aksi demontrasi ini berujung tewasnya seorang pengemudi ojek online, Affan Kurniawan (21), korban tewas setelah dilindas kendaraan taktis Brimob di kawasan Pejompongan, Jakarta Pusat.
Peristiwa itu memicu gelombang amarah masyarakat, sehingga aksi meluas hingga ke daerah-daerah lain dengan disertai perusakan fasilitas umum, pembakaran kantor polisi, penjarahan rumah pribadi. Uskup Labuan Bajo, Mgr. Maksimus Regus, menyikapi dan menyerukan agar masyarakat Manggarai Barat, khususnya umat Katolik di wilayah Keuskupan Labuan Bajo, tidak terbawa arus provokasi maupun tindakan anarkis.
Menurutnya, demokrasi sejati hanya bisa tumbuh dari ruang dialog yang sehat, bukan dari api yang membakar harapan. “Labuan Bajo rukun dan damai, Labuan Bajo tolak anarkis, Labuan Bajo penuh kasih, kita semua bersaudara,” tegas Uskup Maksimus dalam imbauannya, Minggu 31 Agustus 2025. Ia mengingatkan bahwa Yesus Kristus telah mengajarkan kasih, solidaritas, dan perdamaian.
Nilai-nilai itu, katanya, harus diwujudkan lewat rekonsiliasi, pengampunan, serta menolak kekerasan. Ia menambahkan “Untuk itu, kami mengimbau umat Keuskupan Labuan Bajo dan seluruh masyarakat bersama-sama menjaga keutuhan bangsa dan negara,”.
Dengan mengutip Kitab Suci, ia menegaskan kembali panggilan untuk menjadi pembawa damai: “Berbahagialah orang yang membawa damai, karena mereka akan disebut anak-anak Allah” (Matius 5:9). Imbauan ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat Labuan Bajo yang kini dikenal sebagai destinasi pariwisata dunia. Uskup Maksimus berharap, selain menjaga keindahan alam, masyarakat juga merawat keindahan hidup bersama lewat persaudaraan, komunikasi yang sehat, dan semangat gotong royong. “Labuan Bajo harus menjadi contoh. Tidak hanya indah bagi wisatawan, tetapi juga indah karena warganya hidup dalam kedamaian,” pungkasnya.
Ricky
Penulis : Ricky




