Cerpen oleh Amatus Rahakbauw K.
Teluk Bintuni, 10 Juni 2025 – Di bawah langit biru dan semilir angin laut dari Tanah Papua, sebuah kisah mengalir bersama deru mesin truk-truk hias. Hari itu, bukan sekadar perayaan Hari Ulang Tahun ke-22 Kabupaten Teluk Bintuni—hari itu adalah panggung air mata, harapan, dan kebanggaan yang tak bisa dibungkam oleh waktu.
Di pinggir jalan berdebu, seorang anak kecil bernama Neremi, berumur 10 tahun, berdiri memegang erat tangan neneknya. Matanya berbinar saat melihat truk budaya melintas satu per satu, dihiasi rumah-rumah adat yang selama ini hanya ia dengar dalam dongeng sebelum tidur.
“Nenek, itu rumah adat kita ya?” bisiknya lirih, menunjuk pada miniatur rumah suku Moskona.
Neneknya mengangguk, menahan haru. “Itu, rumah dari darah kita, dari tanah di mana moyangmu pernah menanam sagu dan menyanyikan lagu-lagu tua tentang hujan dan hutan.”
Di atas truk, pemuda-pemudi menari, menyanyikan lagu-lagu warisan tujuh suku: Sebyar, Wamesa, Kuri, Irarutu, Moskona, Sough, dan Sumuri. Mereka bukan hanya menari. Mereka berteriak dalam diam: “Kami masih ada! Budaya kami hidup!”
Air mata Neremi jatuh perlahan. Bukan karena sedih, tapi karena ia baru tahu siapa dirinya, dan betapa berharganya darah dan tanah yang diwariskan padanya.
Di tengah keramaian, seorang guru berdiri memandangi truk-truk yang lewat sambil menulis di bukunya: “Anak-anak Papua tidak boleh kehilangan jati diri di tengah dunia yang terus berubah. Kita tidak boleh hanya menjadi penonton di tanah sendiri. Hari ini, budaya telah berbicara. Besok, anak-anak kita harus menjadi suaranya.”
Festival itu bukan sekadar hiasan di atas roda. Itu adalah doa berjalan, pesan diam dari leluhur, teriakan sunyi dari masa depan yang meminta didengarkan.
Dan di tengah dentuman musik dan sorak sorai warga, suara paling jernih terdengar dari hati yang mencintai:
“Jangan biarkan budaya kita hanya hidup dalam festival. Biarkan ia hidup dalam hati, dalam sikap, dalam mimpi kita yang tinggi.”
Malam itu, ketika kota kembali sepi, Neremi menatap langit lalu menulis dalam buku kecilnya:
“Aku anak Papua. Aku akan belajar. Suatu hari nanti, aku akan berdiri di atas panggung dunia, membawa cerita tentang tujuh suku dari Teluk Bintuni. Dan dunia akan tahu bahwa kami bukan hanya kaya – kami adalah warisan yang hidup.”
Pesan Cerita:
Cerpen ini bukan sekadar narasi festival, tapi cermin jiwa Papua: bahwa budaya bukan tontonan, melainkan napas yang diwariskan untuk dijaga. Untuk semua anak Bumi Cenderawasih—bangkitlah, belajarlah, dan bawa budayamu tinggi setinggi langit yang melindungimu.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K




















