Setahun sudah pesta demokrasi berlalu. Hiruk-pikuk kampanye telah usai, spanduk telah diturunkan, panggung-panggung politik telah dibongkar, dan sorak kemenangan telah lama mereda. Namun bagi sebagian orang, ada cerita yang belum selesai. Cerita tentang perjuangan yang perlahan dilupakan.
Saat itu, kami bergerak dengan keyakinan. Waktu, tenaga, pikiran, bahkan hubungan dengan keluarga dan sahabat kami korbankan demi sebuah tujuan yang kami yakini akan membawa perubahan. Tidak pernah terlintas dalam benak bahwa setelah semuanya usai, kami justru merasa seperti orang asing di rumah yang pernah kami bangun bersama.
Hingga hari ini, kami masih bertanya-tanya. Apakah perjuangan yang kami lakukan benar-benar dianggap sebagai bagian dari kemenangan, atau kami hanyalah pelengkap dalam kepentingan politik yang akan ditinggalkan ketika tujuan telah tercapai?
Kami tidak pernah meminta balasan berlebihan. Pengakuan bahwa kami pernah ikut berjuang saja sudah cukup. Namun kenyataannya, setelah kemenangan diraih, banyak wajah yang dahulu berada di garis depan kini seolah menghilang dari ingatan. Politik yang seharusnya menghargai kebersamaan berubah menjadi ruang yang kaku, di mana kedekatan hanya berlaku selama kepentingan masih ada.
Meski demikian, kami tetap bangga dengan keputusan yang pernah kami ambil. Kami telah berjuang sesuai hati nurani dan menjadi bagian dari proses demokrasi. Hasil yang dicapai adalah kemenangan bersama, meskipun tidak semua orang yang ikut memperjuangkannya ikut merasakan arti kemenangan itu.
Kini tugas kami telah selesai. Kami telah menunaikan peran sebagai bagian dari perjuangan. Selanjutnya, tanggung jawab berada di tangan mereka yang telah diberi amanah oleh rakyat. Janji yang pernah diucapkan hendaknya tidak hanya menjadi slogan saat kampanye, tetapi diwujudkan dalam kerja nyata yang berpihak kepada masyarakat.
Semoga pengalaman ini menjadi pelajaran bahwa dalam politik, kemenangan bukan hanya tentang siapa yang berhasil meraih kekuasaan, tetapi juga tentang bagaimana menghargai setiap orang yang telah berjuang dengan tulus.
Sebab ketika perjuangan hanya dipandang sebagai alat mencapai tujuan, maka yang tersisa bukanlah kebanggaan, melainkan kekecewaan yang perlahan berubah menjadi luka.
Penulis : M Hamdani




















