Hutan yang Pergi, Manusia yang Mencari

- Penulis

Minggu, 25 Januari 2026 - 23:07 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Cerita :

Penulis: Amatus Rahakbauw

 

Dulu, hutan itu bernapas.
Ia bernapas bersama embun pagi, bersama burung-burung yang tak pernah belajar takut pada manusia, bersama anak-anak kampung yang berlari tanpa alas kaki, memanggil nama pohon seolah mereka saudara.

Daun-daun berdesir seperti doa, dan tanah hitam menyimpan rahasia kehidupan yang diwariskan turun-temurun.
Tak ada yang menyebutnya “hutan rimba” dengan nada asing.
Ia adalah ibu.
Ia adalah rumah.

Orang-orang tua berkata, hutan tidak pernah diam.
Ia mendengar.
Ia mencatat.
Ia mengingat.

Ketika mesin pertama datang, tak ada yang langsung menangis.
Bunyinya asing, tetapi dianggap sementara.
Orang-orang berkata:
“Hanya sebentar, hanya beberapa pohon.”
Namun satu pohon tumbang, lalu yang lain.
Nama-nama pohon yang dulu dihafal anak-anak mulai terlupakan.
Yang tersisa hanyalah sebutan umum:
kayu, lahan, proyek.

Seorang kakek duduk di tepi kampung, menatap bukit yang mulai botak.
“Hutan tak pergi,” katanya lirih.
“Ia diusir.”
Sungai yang Tak Lagi Jernih
Sungai adalah cermin hutan.
Ketika hutan terluka, sungai pun berdarah.
Air yang dulu bening kini membawa lumpur dan amarah.

Baca Juga  Hutan Kita: Penopang Kehidupan dan Masa Depan Rakyat

Ikan-ikan menghilang tanpa pamit.
Anak-anak tak lagi berenang,
ibu-ibu tak lagi menimba dengan nyanyian.
Manusia mulai membeli air.
Dan saat itulah mereka lupa:
sesuatu yang dulu dijaga bersama,
tak bisa digantikan oleh uang atau kemasan.

Kota yang Lapar
Jalan beraspal datang bersama janji.
Katanya: kemajuan.
Katanya: kesejahteraan.
Bangunan tumbuh lebih cepat daripada pohon.

Lampu-lampu menyala semalaman,
tetapi banyak hati justru gelap.
Orang-orang pindah ke kota membawa ingatan tentang hutan di punggung mereka—
namun kota tak pernah bertanya dari mana ingatan itu berasal.
Di sana, manusia belajar hidup terpisah:
dari tanah,
dari musim,
dari satu sama lain.
Mereka bekerja keras untuk membeli hal-hal yang dulu tidak perlu dibeli:
udara bersih,
air minum,
ketenangan.

Baca Juga  9 Tahun Jadi Ketua Umum LBH, Dilepaskannya, Anggota DPR RI Fraksi Gerindra Angkat Bicara

Di sudut kota, seorang perempuan muda menatap layar ponselnya—
gambar hutan hijau yang diunggah orang asing dari negeri jauh.
Ia menelan ludah.
“Hutan seperti ini,” gumamnya pelan,
“pernah ada di rumahku.”

Anak yang Bertanya
Seorang anak lahir tanpa pernah mendengar suara hutan.
Ia mengenal burung dari buku,
mengenal sungai dari cerita,
dan mengenal tanah hanya sebagai sesuatu yang menodai sepatu.
Suatu hari ia bertanya pada ayahnya,
“Kenapa pohon-pohon itu tinggal di gambar?”

Ayahnya terdiam lama.
Ia mencari jawaban yang tidak menyalahkan siapa pun,
tetapi juga tidak berbohong.
Akhirnya ia berkata,

“Karena kami lupa menjaga mereka.”
Anak itu mengangguk pelan.
Dalam diamnya, tumbuh satu benih kecil—
kesadaran yang belum tercemar oleh pembenaran.

Baca Juga  Isu Dugaan Penyalahgunaan Dana Karang Taruna Desa Indrayaman Jadi Sorotan

Ingatan yang Bangkit
Hutan memang ditebang.
Sungai memang keruh.
Namun ingatan—anehnya—lebih keras kepala daripada mesin.

Ia hidup dalam cerita orang tua,
dalam lagu-lagu lama,
dalam rasa rindu yang tak selalu bisa dijelaskan.

Ia hidup di tangan-tangan muda yang mulai menanam, meski ditertawakan.
Di langkah-langkah kecil yang menolak menyerah pada kalimat,
“sudah terlanjur.”Beberapa orang kembali ke tanah yang terluka.

Mereka tidak membawa janji besar,
hanya kesabaran.
Menanam satu pohon.
Menjaga satu mata air.
Mengajarkan satu anak untuk mendengar kembali.

Hutan yang Mencari Manusia
Mungkin hutan memang pergi.
Atau mungkin, ia sedang menunggu.
Menunggu manusia yang berhenti merasa paling berkuasa,dan mulai belajar kembali menjadi bagian.

Sebab sesungguhnya,
yang paling hilang bukanlah hutan—
melainkan manusia yang lupa caranya hidup bersama.Dan ketika manusia mulai mencari dengan rendah hati,
hutan, pelan-pelan,akan menemukan jalan pulang.

Berita Terkait

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan
Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku
Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif
Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya
Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa
Agus Flores Nobar FIFA 2026 Bersama Kapolda Jabar dan Jajaran Dukung Program Kapolri
Jurnalis dan Nurani Kebenaran: Saat Pena Menjadi Cahaya Peradaban
Senja yang Pergi, Bulan yang Menemani

Berita Terkait

Minggu, 9 Agustus 2026 - 21:03 WIB

Dari Lengkong Kita Belajar Arti Kemerdekaan

Sabtu, 1 Agustus 2026 - 11:52 WIB

Ketika Aku Mempercayai Janji Tuhan untuk Hidupku

Minggu, 26 Juli 2026 - 10:35 WIB

Stop Tawuran: Pelajar Diajak Ubah Emosi Jadi Prestasi Di Talk Show Inspiratif

Jumat, 24 Juli 2026 - 16:13 WIB

Ada Apa Agus Flores Tiba-Tiba Datangi Polda Metro Jaya? Ternyata Ini Alasannya

Jumat, 24 Juli 2026 - 09:51 WIB

Kesombongan Membutakan Mata, Kerendahan Hati Menyelamatkan Jiwa

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page