Manokwari — Rektor Universitas Caritas Indonesia (UNCRI), Prof. Dr. Robert Kurniawan Ruslak Hammar, S.H., M.Hum., M.H., CLA., menegaskan bahwa Kuliah Kerja Nyata (KKN) bukan sekadar menggugurkan kewajiban akademik, melainkan ajang membuktikan kontribusi nyata bagi masyarakat.
Pesan ini disampaikan saat ia meninjau langsung kegiatan KKN mahasiswa di Kabupaten Manokwari dan Kabupaten Manokwari Selatan kepada Jurnalis Tempo Timur.com melalui Via Whatsapp Minggu pagi, (10/8/2025),WIT.
Kunjungan kerja ini bertujuan memantau perkembangan program, mendengar langsung laporan dari mahasiswa, dan memberi dorongan moral agar para peserta KKN serius menuntaskan program hingga tuntas.
“KKN bukan hanya formalitas. Ini adalah kesempatan untuk mengaplikasikan ilmu, mengubah pola pikir, dan memberi manfaat yang benar-benar dirasakan masyarakat,” tegas Rektor Robert.
Program KKN UNCRI 2025 berlangsung sejak 21 Juli hingga 21 Agustus, mencakup 11 lokasi di tiga kabupaten: Manokwari, Manokwari Selatan, dan Teluk Bintuni. Mahasiswa dari Fakultas Hukum serta Ekonomi-Bisnis melaksanakan beragam program fisik dan non-fisik, mulai dari pembangunan infrastruktur sederhana hingga pelatihan peningkatan kapasitas warga.
Respons positif datang dari pemerintah daerah dan masyarakat yang merasakan langsung manfaat kegiatan ini.
Di Kampung Warami, Distrik Tanah Rubuh, mahasiswa Kelompok 2 menggarap program prioritas yang mencakup pemberdayaan ekonomi, edukasi hukum adat, kesehatan, gizi, dan akses keuangan mikro.
Pelatihan manajemen usaha dan UMKM, sosialisasi perlindungan hak kekayaan intelektual, serta penyuluhan hak pengelolaan hutan adat menjadi agenda utama. Kepala kampung dan warga mengapresiasi penyampaian materi yang membuka wawasan dan memberi solusi konkret terhadap tantangan lokal.
Mahasiswa juga mengadakan edukasi gizi dan membagikan makanan bergizi untuk anak-anak, membantu meningkatkan kesadaran orang tua akan pentingnya pola makan seimbang. Penyuluhan keuangan mikro terpadu memberi panduan warga untuk mengelola usaha kecil dan mengakses modal usaha.
Menjelang HUT ke-80 Kemerdekaan RI, mahasiswa berkolaborasi dengan pemuda setempat menggelar kegiatan perayaan sebagai wadah mempererat hubungan dan membangun rasa kebersamaan.
Koordinator Kelompok 2, Milan Yafet Heatubun, menegaskan bahwa semua program disusun berdasarkan aspirasi masyarakat.
“Kami datang bukan hanya untuk menyelesaikan tugas, tapi untuk benar-benar mendengar, memahami, dan menjawab kebutuhan warga,” ujarnya.
KKN UNCRI 2025 menunjukkan bahwa mahasiswa mampu menjadi agen perubahan jika program dijalankan dengan kesungguhan, keberanian, dan kedekatan dengan masyarakat. Tantangannya kini adalah memastikan setiap jejak yang ditinggalkan bukan hanya cerita, tapi warisan nyata bagi kampung yang mereka layani.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K














