Halsel — Jelang Pemilihan Kepala Daerah (Pilkada) di Kabupaten Halmahera Selatan (Halsel), Provinsi Maluku Utara (Malut), yang bakal digelar pada 27 November mendatang, wajah kepemimpinan di daerah ini kembali disorot oleh berbagai pihak.
Salah satunya datang dari putera kelahiran Gane Timur, Halsel, Sefnat Tagaku. Alumni Universitas Halmahera (Uniera) itu menyoroti berbagai aspek pembangunan di Halsel mulai dari mekarnya daerah ini hingga saat ini.
Menurut Sefnat, ada banyak hal yang dilakukan oleh pemerintah daerah dari dulu hingga saat ini yang cenderung tidak melihat prioritas kebutuhan masyarakat, selain itu adanya kesenjangan sosial di Halsel selama ini.
“Pemerintah di Halsel ini cenderung melakukan sesuatu berdasarkan keinginan hati tanpa melakukan pengkajian kebutuhan prioritas. Karena itu banyak yang Amburadul”, ucap Sefnat melalui pres release kamis, 19 September 2024.
Lanjut sefnat, mencontohkan “pembangunan pasar yang berada di wilayah Bacan Selatan, membangun dengan anggaran pinjaman miliaran rupiah, namun hari ini lihat saja fakta pembangunan yang ada, hanya menjadi sarang nyamuk”
“belum lagi soal pembangunan infrastruktur jalan di seluruh wilayah Halsel yang tidak pernah tuntas dibangun, ini diakibatkan konsep management pemerintahan yang salah”, ukapnya
Selain itu, penulis buku Melihat Indonesia dari Pinggiran itu pula mengaku, bahwa ada banyak hal program-program di bidang sosial yang dilakukan secara tidak merata.
Sekretaris Dewan Pimpinan Cabang Gerakan Angkatan Muda Kristen Indonesia (DPC GAMKI) Halsel itu juga menyebut selama ini tidak ada pula langkah peningkatan ekonomi rakyat yang dilakukan oleh pemerintah.
“Mengapa tingkat kesejahteraan masyarakat di Halsel masih begitu lemah? Karena salah satu faktornya adalah kurangnya perhatian pemerintah dalam mendorong peningkatan ekonomi rakyat”, kata Sefnat.
Padahal menurut Sefnat, jika pemerintah memiliki konsep pembangunan yang baik, maka ada banyak hal menjadi kekayaan daerah yang bisa dimanfaatkan oleh rakyat untuk meraup pendapatan ekonomi.
“Hari ini menjelang momentum pilkada, kita semua wajib berefleksi atas apa yang telah terjadi di daerah ini. Kekayaan SDA yang melimpah, tapi pembangunan infrastruktur, ekonomi, pendidikan, kesehatan dan bidang sosial lainnya masih menjadi perdebatan”, tegas Sefnat.
Sefnat lantas mengajak masyarakat untuk melihat rekam jejak calon pemimpin yang hari ini muncul untuk berkompetisi pada Pilkada November mendatang.
“Kalau mau daerah ini bisa keluar dari zona ketertinggalan dan menjadi daerah yang maju, maka berhenti memilih pemimpin karena identitas suku dan sebagainya. Tapi lihat rekam jejak mereka selama ini”, tandas Sefnat.
(MS)



















