Pernikahan Putra Kapolda Kaltara Gunakan Adat Dayak Kenyah

- Penulis

Minggu, 26 Mei 2024 - 15:00 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

Jakarta | Tempo Timur  – Ribuan tamu undangan menghadiri prosesi Pekiban atau pernikahan adat Dayak Kenyah, putra Kapolda Kaltara Irjen Daniel Adityajaya, Johan Nathaniel Ega dengan Elva Waniza, putri Kepala adat besar Apau Kayan, Ibau Ala di gedung Pesparawi Tanjung Selor pada Jumat 24 Mei.

Prosesi Pekiban dimulai dari kedatangan rombongan pengantin pria di rumah pengantin wanita di jalan Jeruk Tanjung Selor.

Ketua Lembaga Adat Dayak Kenyah (LADK) Kaltara, Ingkong Ala mengatakan, Pekiban merupakan budaya tradisi pernikahan adat yang dilakukan para leluhur suku Dayak Kenyah hingga saat ini.

“Tradisi Pekiban dulunya hanya dilaksanakan oleh Bangsawan yang dikenal dengan Da’ta’u (Paren) atau orang terpandang dikalangan masyarakat Dayak Kenyah,” kata Ingkong Ala yang juga menjabat Wakil Bupati Bulungan.

Baca Juga  Pemkab Batu Bara Gelar Halal Bihalal di Danau Laut Tador

“Tradisi ini melibatkan semua masyarakat desa atau kampung yang satu wilayah dengan kepala adat besar,” lanjutnya.

Ia menjelaskan, selain melibatkan para sesepuh adat, prosesi Pekiban juga menggunakan simbol dan peralatan adat seperti tikar rotan (Lampit) yang melambangkan tempat kedua mempelai duduk bersama menyatukan hati, bermusyawarah, merencanakan dan menyelesaikan permasalahan di keluarga.

“Kemudian, Ampit atau rantai besi yang digunakan untuk menyatukan kedua keluarga sehingga jadi kuat dan tidak bisa dipisahkan. Selain itu, 2 buah gong (Taweq) sebagai singgasana tempat kedua mempelai duduk,” jelas Ingkong Ala.

Selanjutnya, Parang hias (Sua Pok) digunakan sebagai simbol untuk membuka atau merintis jalan kehidupan sekaligus memotong semua penghalang keluarga mempelai.

Baca Juga  Bupati Batu Bara Dorong Revitalisasi Istana Niat Lima Laras

“Tempayan (Tayan) melambangkan tempat semua keluarga dan mempelai satukan, hidup rukun dan damai. Gong (Taweq) sebagai atap besi yang kuat untuk melindungi kedua mempelai dari terik matahari, hujan dan gangguan lainnya,” imbuhnya.

“Air Penyeleng atau air kehidupan bermakna membersihkan diri dan kehidupan keluarga kedua mempelai,” kata Ingkong Ala.

Ia menambahkan, kedua mempelai sebelumnya telah mengikuti proses pemberkatan nikah di gereja di Mapolda Kaltara dan prosesi adat Jawa di Jakarta.

“Tidak lengkap rasanya jika Pekiban ini tidak dilaksanakan, saya mewakili keluarga besar kedua mempelai mengucapkan terima kasih atas dukungan dan doa restunya sehingga acara ini berjalan dengan baik,” tutupnya.

(*)

Berita Terkait

Jaga Warisan Leluhur, DPRD Batu Bara Siapkan Perda Budaya Melayu
MTQ Nasional XXXI di Semarang Diprediksi Gerakkan Ekonomi Rp1,2 Triliun
Pawai Ta’aruf MTQ Nasional XXXI di Semarang Libatkan 1.000 Peserta dari 38 Kontingen
Dato’ Mohd Zaki dan Dzuriat Kedatukan Batu Bara Tinjau Kondisi Bangunan Kubah, Penjaga Makam Sebut Rombongan Pertama Datang
Medan Tampilkan Tari Inai di Kenduri Budaya Bintan 2026
Bupati dan Ketua DPD PAN Batu Bara Hadiri Pembukaan Festival Hadroh, Semarakkan HUT RI ke-81 dan HUT PAN ke-28
Dato’ Mohd Zaki Prihatin Kondisi Kubah Datuk Batu Bara Berangsur Rusak
UU DKJ Terealisasi, Lembaga Adat Betawi Resmi Miliki Payung Tunggal

Berita Terkait

Jumat, 11 September 2026 - 13:54 WIB

Jaga Warisan Leluhur, DPRD Batu Bara Siapkan Perda Budaya Melayu

Rabu, 9 September 2026 - 22:26 WIB

MTQ Nasional XXXI di Semarang Diprediksi Gerakkan Ekonomi Rp1,2 Triliun

Rabu, 9 September 2026 - 09:47 WIB

Pawai Ta’aruf MTQ Nasional XXXI di Semarang Libatkan 1.000 Peserta dari 38 Kontingen

Selasa, 8 September 2026 - 19:27 WIB

Dato’ Mohd Zaki dan Dzuriat Kedatukan Batu Bara Tinjau Kondisi Bangunan Kubah, Penjaga Makam Sebut Rombongan Pertama Datang

Minggu, 6 September 2026 - 20:09 WIB

Medan Tampilkan Tari Inai di Kenduri Budaya Bintan 2026

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page