
Penulis,Cerita Panjang :
Editor Amatus.Rahakbauw Kelanit
Di balik kecerdasan, jabatan, dan keberhasilan, sering kali tersembunyi sebuah bahaya yang tidak disadari: kesombongan.
Kesombongan membuat seseorang merasa paling benar, paling hebat, dan paling layak diselamatkan.
Padahal, ketika hidup berada di ujung batas, bukan kepandaian yang menentukan keselamatan, melainkan ketenangan, kebijaksanaan, dan kerendahan hati.
Suatu hari, sebuah pesawat mengalami kerusakan parah di tengah penerbangan. Kepanikan melanda seluruh penumpang. Di dalam pesawat itu hanya ada empat orang, yaitu seorang pilot, seorang ahli komputer, seorang anak pramuka, dan seorang pendeta yang sudah lanjut usia.
Menyadari pesawat akan segera jatuh, sang pilot segera mengambil sebuah parasut dan melompat keluar untuk menyelamatkan diri.
Setelah itu, ahli komputer berdiri dengan penuh percaya diri. Dengan nada angkuh ia berkata, “Saya adalah orang paling pintar. Dunia masih membutuhkan saya.” Tanpa memastikan apa yang diambilnya, ia segera meraih sebuah tas dan melompat keluar dari pesawat.
Kini, yang tersisa di dalam pesawat hanyalah pendeta tua dan seorang anak pramuka.
Pendeta itu memandang anak kecil tersebut dengan penuh kasih. Ia berkata, “Nak, parasut tinggal satu. Ambillah. Kamu masih memiliki masa depan yang panjang. Biarlah saya tetap di sini.”
Namun, anak pramuka itu tersenyum tenang.
“Pendeta, jangan khawatir. Parasutnya masih ada dua. Orang yang mengaku paling pintar tadi ternyata mengambil tas pakaian saya, bukan parasut.”
Pendeta itu pun tersenyum sambil mengucap syukur kepada Tuhan. Mereka berdua kemudian mengenakan parasut dan melompat dengan selamat.
Kisah sederhana ini mengajarkan bahwa kesombongan dapat membutakan akal sehat. Seseorang yang terlalu yakin pada dirinya sendiri sering kali bertindak tergesa-gesa tanpa berpikir jernih.
Sebaliknya, kerendahan hati melahirkan kebijaksanaan, ketenangan, dan kasih kepada sesama.
Firman Tuhan mengingatkan:
“Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan.” (Amsal 16:18)
Rasul Paulus juga menasihatkan:
“Janganlah kamu melakukan sesuatu dengan kepentingan sendiri atau karena kesombongan belaka, tetapi hendaklah dengan rendah hati yang seorang menganggap yang lain lebih utama daripada dirinya sendiri.” (Filipi 2:3)
Demikian pula Rasul Yakobus berkata:
“Allah menentang orang yang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati.” (Yakobus 4:6)
Karena itu, jangan pernah mengandalkan kecerdasan, kekayaan, jabatan, atau kemampuan sebagai alasan untuk meninggikan diri. Semua itu adalah anugerah Tuhan yang dapat hilang dalam sekejap.
Kerendahan hati bukan tanda kelemahan, melainkan bukti kedewasaan iman. Orang yang rendah hati akan selalu berpikir jernih, menghargai orang lain, dan mengandalkan Tuhan dalam setiap langkah hidupnya.
Semoga kisah ini mengingatkan kita bahwa orang yang paling bijaksana bukanlah mereka yang paling banyak mengetahui, melainkan mereka yang tetap rendah hati di hadapan Tuhan dan sesamanya.





