FAKFAK — Tokoh masyarakat sekaligus pelayan gereja di Distrik Fakfak Tengah, Kabupaten Fakfak, Maximus Tanggahma, meninggal dunia pada Minggu, 22 Maret 2026, pukul 18.35 WIT di RSUD Fakfak.
Kepergian almarhum meninggalkan duka mendalam bagi keluarga, jemaat, dan masyarakat yang mengenalnya. Semasa hidup, ia dikenal sebagai sosok yang setia dalam pelayanan gereja serta aktif dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Almarhum pernah melayani sebagai Anggota Majelis Jemaat GKI Siloam Danaweria pada periode 2012–2017 sebagai syamas, kemudian kembali melayani pada periode 2019–2022 sebagai penatua.
Selain pelayanan gereja, ia juga aktif sebagai pengurus Lembaga Masyarakat Adat Distrik Fakfak Tengah dan dikenal sebagai tokoh adat Kampung Merapi, Petuanan Fatagar.
Dalam kehidupan keluarga, almarhum merupakan anak kelima dari pasangan (Alm.) Martinus Tanggahma dan (Almh.) Alida Ivong Hindom. Ia memiliki empat saudara, yaitu (Alm.) Paskalis Tanggahma, Frans Adolf Tanggahma, Paskalina Tanggahma, dan Ameliana Tanggahma.
Almarhum menikah dengan Fransina Tigtigweria pada 4 Januari 1998 di Jemaat GKI PNIEL Pikpik. Dari pernikahan tersebut, mereka dikaruniai dua orang anak, Viktor F. Tanggahma dan Pascalina Tanggahma, serta dua orang cucu, Ivana Tanggahma dan Alvaro Tanggahma.
Ibadah pelepasan jenazah dilaksanakan pada Selasa, 24 Maret 2026, di rumah duka di Distrik Fakfak Tengah, dimulai pukul 11.16 WIT.
Ibadah dipimpin oleh Pdt. Marthinus Niunofur, S.Si, dengan pembacaan firman Tuhan dari Yohanes 14:1–3 dan Wahyu 14:13 yang menegaskan pengharapan akan kehidupan kekal bagi orang percaya.
Turut hadir dalam ibadah tersebut Asisten I Setda Kabupaten Fakfak, Arif Rumagesan, mewakili pemerintah daerah, bersama Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Fakfak dr. Maulana Patiran, para kepala distrik, serta jajaran staf pemerintah.
Dalam sambutannya, Arif Rumagesan menyampaikan belasungkawa mendalam atas kepergian almarhum.
“Atas nama Pemerintah Daerah Kabupaten Fakfak, kami menyampaikan turut berduka cita yang sedalam-dalamnya. Kiranya Tuhan Yang Maha Kuasa memberikan kekuatan dan penghiburan bagi seluruh keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya.
Ia juga mengajak keluarga untuk tetap kuat dalam iman dan berharap kepada Tuhan di tengah duka, dengan mengutip Mazmur 34:18 bahwa Tuhan dekat dengan orang yang patah hati.
Ibadah berlangsung khidmat, diiringi pujian dan doa jemaat yang menguatkan keluarga. Rangkaian ibadah diakhiri dengan penyerahan foto almarhum kepada Majelis Jemaat sebagai bentuk penghormatan terakhir, sebelum jenazah diberangkatkan ke tempat pemakaman.
Kepergian Maximus Tanggahma tidak hanya meninggalkan duka, tetapi juga teladan tentang kesetiaan, kerendahan hati, dan pengabdian dalam pelayanan kepada Tuhan dan sesama.
Penulis : Amatus Rahakbauw, K






















