Fakfak — Wakil Ketua I Pekerjaan Sinode Gereja Kristen Injili (GKI) di Tanah Papua, Pdt. Hizkia Rollo, S.Th, menegaskan bahwa gereja telah menjadi pelopor utama pembangunan di Tanah Papua sejak masuknya Injil pertama kali melalui dua misionaris asal Jerman, Carl Wilhelm Ottow dan Johann Gottlob Geissler, pada 5 Februari 1855 di Pulau Mansinam, ujar Pdt.Hizkia Rollo,ST.h saat di temui Jurnalis Tempo.Timur. com Senin pagi (30/6/2025)WIT.
Pernyataan ini disampaikannya dalam kegiatan temu raya gerejawi yang berlangsung di Kabupaten Fakfak, Papua Barat, yang juga dihadiri oleh tokoh adat, pemerintah, dan pemimpin gereja dari berbagai wilayah.
“Saya bukan hanya Wakil Ketua I Pekerjaan Sinode GKI, tetapi juga Ketua Persekutuan Gereja-Gereja di Tanah Papua. Kami meyakini bahwa pembangunan Papua berakar dari pelayanan gereja yang dilakukan oleh para misionaris,” ungkap Pdt. Hizkia.
Menurut Hizkia, saat kedua misionaris menapakkan kaki di Pulau Mansinam dan bersujud dalam doa, mereka secara spiritual meletakkan dasar peradaban baru di tanah Papua yang berlandaskan pada iman kepada Tuhan. Dari sinilah, lanjutnya, berbagai lembaga pendidikan, pelayanan kesehatan, dan pengembangan ekonomi mulai terbentuk.
“Gereja menjadi penggerak pertama pembangunan sosial dan spiritual masyarakat Papua. Sejak saat itu, kami terus bertumbuh bersama masyarakat,” ujarnya.
Gereja, menurut Hizkia, juga menyambut dengan penuh syukur integrasi Papua ke dalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ia menegaskan bahwa gereja turut bertanggung jawab dalam mendorong pembangunan hingga ke tingkat distrik dan kampung-kampung.
Ia juga menyampaikan rasa terima kasih kepada para tokoh adat, Ondoafi (kepala suku), dan masyarakat adat yang telah memberikan restu untuk pelepasan tanah adat demi pembangunan gereja dan pemerintahan.
“Konsep hidup masyarakat Fakfak dengan semboyan Satu Tungku Tiga Batu telah menjadi simbol harmonisasi antara agama, adat, dan pemerintahan,” katanya.
Hizkia juga menekankan pentingnya menghargai kehadiran berbagai suku dari luar Papua seperti Maluku, Minahasa, Jawa, Buton, dan Sumatera yang turut menjadi bagian dalam pembangunan Tanah Papua, baik sebagai pengajar, pendeta, maupun pelayan masyarakat.
“Kami tidak membedakan warna kulit, rambut, atau asal. Dalam pelayanan gereja yang bersifat oikumenis, siapa pun yang datang dan tinggal di tanah ini adalah anak Papua juga,” ujarnya.
Ia menegaskan bahwa semua yang datang harus menghargai nilai-nilai lokal seperti Satu Tungku Tiga Batu, dan tidak membawa budaya atau perilaku negatif yang dapat merusak tatanan sosial dan spiritual masyarakat Papua.
Dalam pernyataannya, Hizkia juga menegaskan penolakan terhadap regulasi minuman keras (miras), dan menekankan bahwa gereja lebih memilih memperkuat pendidikan karakter sejak dini.
“Kami tidak butuh regulasi miras. Kami butuh generasi baru Papua yang dibentuk oleh guru-guru sekolah minggu sebagai agen perubahan. Itulah fondasi masa depan kami,” tegasnya.
Menurutnya, masyarakat Papua harus membangun diri mereka sendiri dari dalam, dan pihak luar hanya memperkuat posisi yang sudah ada agar terwujud kesatuan dalam semangat bangsa dan negara.
Pdt. Hizkia juga memberikan apresiasi kepada Gubernur Papua Barat, Drs. Dominggus Mandacan, M.Si, Bupati, Wakil Bupati, dan Sekretaris Daerah Kabupaten Fakfak, serta tokoh-tokoh Muslim yang turut menunjukkan kebersamaan dalam acara tersebut.
“Kami melihat tambur/hadarat Muslim sebagai simbol bahwa kita satu. Nenek moyang kami tidak pernah membeda-bedakan. Ada anak untuk Katolik, Islam, dan Kristen — semua dari satu rahim. Karena itu, kami tidak akan pernah bertengkar, karena darah kami satu, harapan kami satu,” ujarnya penuh haru.
Kegiatan temu raya ini diikuti oleh guru-guru sekolah minggu dari tujuh wilayah adat dan enam provinsi di Tanah Papua. Hizkia menekankan bahwa mereka datang bukan untuk mencari keuntungan, tetapi untuk memperkuat pelayanan dan membangun ikatan kekeluargaan dengan masyarakat Mbaham Matta di Fakfak.
“Kami akan membawa cerita kebahagiaan ini pulang, dan ketika anak-anak Mbaham Matta datang ke tempat kami, kami akan menyambut mereka dengan sukacita yang sama,” tutupnya.
Pernyataan ini menegaskan bahwa:
Gereja telah dan terus menjadi pelopor pembangunan di Tanah Papua.
Sejarah Injil adalah fondasi utama bagi perkembangan pendidikan, kesehatan, dan ekonomi masyarakat Papua.
Kolaborasi antara gereja, pemerintah, dan masyarakat adat adalah pilar utama pembangunan Papua.
Papua adalah miniatur Indonesia di Timur, tempat di mana keragaman dijaga dan dirayakan dalam semangat persaudaraan.
Gereja menolak regulasi yang merusak moral masyarakat (seperti miras), dan lebih fokus pada pembangunan karakter anak-anak Papua sebagai generasi pemimpin masa depan.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K
















