Tempo-Timur.com — Malam ini, ketika jarum jam dengan setia melangkah meninggalkan tahun 2025 dan perlahan membuka gerbang tahun 2026, kita tidak sekadar berkumpul untuk menghitung detik demi detik yang berlalu.
Kita hadir dengan kesadaran iman, untuk menyerahkan kembali kunci hidup kita ke dalam tangan Tuhan, Sang Pemilik Waktu dan Sejarah.
Tahun yang telah kita lewati bukanlah perjalanan tanpa makna. Ia menyimpan jejak langkah kita—tentang tawa yang sempat merekah, tentang air mata yang jatuh dalam sunyi, dan tentang tangan Tuhan yang tak pernah lepas menopang kita, bahkan saat iman kita nyaris goyah.
Di setiap lembah dan di setiap puncak kehidupan, Tuhan setia menyertai.
Seperti pengakuan iman pemazmur yang lahir dari pengalaman berjalan bersama Allah:“TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku.”(Mazmur 23:1)
Malam Kunci ini mengingatkan kita akan satu kebenaran yang sering kita lupakan: waktu bukan milik kita, masa depan bukan dalam genggaman kita, dan hidup kita sepenuhnya berada di tangan Tuhan.
Firman Tuhan menegaskan dengan hikmat yang kekal:“Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apa pun di bawah langit ada waktunya.”(Pengkhotbah 3:1)
Karena itu, di hadapan altar Tuhan, di Gereja GPdI Bethesda Fakfak, pada malam yang kudus ini, kita datang bukan membawa kesombongan rencana manusia, melainkan kerendahan hati seorang anak yang percaya penuh kepada Bapanya.
Dengan hati yang tunduk dan iman yang berserah, kita berkata:“Tuhan, inilah hidupku.Inilah keluargaku.
Inilah gerejaku.Inilah tahun 2025.
Aku serahkan seluruh kuncinya ke dalam tangan-Mu.”
Sebab kami percaya, hanya Tuhan yang sanggup membuka pintu yang tak dapat ditutup oleh siapa pun, dan menuntun kami melangkah dari satu musim ke musim yang lain, seturut kehendak-Nya yang sempurna.
Penulis : Amatus Rahakbauw





















