Labuan bajo, NTT — Lagu Timur saat ini sedang naik daun dan merajai panggung musik Nasional, ditandai dengan irama energik yang khas, lirik sederhana berbahasa daerah dengan kosakata unik, dan warna vokal yang kuat.
Tempo Timur, berkesempatan mewawancarai salah satu tokoh musik asal Maumere, Flores-NTT Nyong Frangko pencipta sekaligus vokalis dari lagu Gemufamire di Labuan Bajo, Senin, (24/11/2025) pagi.
Menurut Nyong Frangko bahwa, popularitas ini dipicu oleh viralnya musik Timur di media digital melalui dance challenge dan juga strategi musisi lokal membangun audiens, termasuk melalui penghargaan seperti AMI Awards.
Musik ini menggabungkan unsur-unsur modern seperti reggae dan pop dengan kekayaan budaya lokal, dan kadang juga menampilkan alat musik tradisional seperti tifa, juk, gambus,biola, suling, gong dan gendang menjadikan musik timur punya identitas kuat.
Nyong Frangko menjelaskan, “terkait bagaimana kiblat musik Indonesia timur hadir di panggung Nasional dan Internasional bisa eksis tentu karena semangat karya dari para pemuda timur itu sendiri itu nyaris tidak pernah luntur”
“Saat ini memang kiblat musik Timur banyak menunjuk ke Indonesia timur, apakah memang karena sudah jenuh dengan musik dibagian barat ya silahkan para penikmat musik menilai, saya punya keyakinan bahwa mungkin karena platform pengaruh dunia digital sudah sangat mudah, dan dengan mudah diakses”
“Karena dulu dunia rekaman kita sangat terbatas dan sulit kita akses dan tentu cos biaya juga sangat mahal, dengan hadirnya teknologi dunia rekaman memakai sistem digital sangat membantu para industri musik timur untuk berkarya dengan alat rekaman seadanya sesuai budget, yang belum punya uang untuk ini tapi dengan hadirnya teknologi yang baru sekarang itu memudahkan para musisi untuk mengeksplor kemampuannya”
“Fenomena yang terjadi melalui lagu gemufamire seolah-olah menjadi tren baru waktu itu sehingga bagi saya, musik itu sebenarnya tidak hanya untuk dinikmati pada saat duduk ngobrol dengan teman sambil ngopi akan tetapi juga ada prakteknya atau harus di gerakan”
Harapannya, “dari kami untuk generasi muda sekarang seberapapun tinggi kita terbang untuk berkarya paling penting jangan lupa akar atau indentitas kita dari mana kita berasal agar kita semakin kuat dalam berkarya, agar tidak terhanyut oleh tradisi orang lain”
Soal apresiasi dari Pemerintah Daerah, “saya mengalami situasi dimana pemerintah masih kurang memperhatikan karya dari para seniman dan pelaku musik seolah-olah masih sibuk dengan politik, ya memang tidak semua juga, tetapi ini yang sangat disayangkan perhatian pemerintah dalam kapasitasnya masih jauh dari harapan”. Pungkas Nyong Frangko kepada Tempo Timur
Penulis : Ricky



















