JAKARTA — Sosok Agus Flores, Ketua Umum Perkumpulan Wartawan Fast Respon Nusantara (PW.FRN) yang juga dikenal sebagai Counter Polri, kembali menarik perhatian publik melalui kisah hidupnya yang penuh perjuangan dan makna.
Dalam refleksi yang ia sampaikan secara terbuka, Agus Flores berbagi perjalanan hidup yang tidak mudah sejak masa kecil hingga kini meniti karier di dunia pers dan sosial kemasyarakatan. Ia mengaku kehidupannya dulu jauh dari kemewahan, namun justru membentuk karakter dan nilai perjuangan yang ia pegang teguh hingga hari ini.
“Untungnya saya dapat jodoh, orang kaya dari Gorontalo, baru hidup saya terarah,” ujar Agus Flores dengan nada jujur dan penuh kerendahan hati, 9 November 2025.
Agus mengenang masa kecilnya di desa yang serba terbatas. Bahkan untuk menikmati daging sapi, keluarganya harus menunggu berbulan-bulan.
“Dulu di desa saya, pembagian daging sapi itu tiga bulan sekali, baru bisa makan daging,” kenangnya sambil tersenyum.
Ia juga menuturkan betapa beratnya kehidupan keluarga polisi di masa lalu.
“Saya mau sadarkan, bahwa polisi itu susah hidupnya. Bahkan nanti dapat jajan sebulan sekali, itu pun nanti tanggal satu,” ucapnya mengenang.
Lebih jauh, Agus mengingat pesan sang ayah yang menggambarkan kerasnya perjuangan mereka dalam bertahan hidup.
“Kata ayah, ubi kayu ular naga dilawan. Hidup kami dulu di keluarga polisi lebih banyak makan ubi kayu dan sagu dibakar, jarang makan nasi,” ungkapnya dengan mata berkaca-kaca.
Berangkat dari kehidupan sederhana itulah, Agus Flores tumbuh menjadi pribadi yang tegas namun rendah hati. Kini, ia dikenal luas sebagai tokoh pers yang berkomitmen membangun sinergi positif antara insan pers dan aparat kepolisian.
Filosofi hidupnya yang sederhana menjadi dasar dalam menjalankan peran sebagai jembatan komunikasi antara media dan penegak hukum, serta menginspirasi banyak wartawan di seluruh Indonesia.
“Saya percaya, dari kesederhanaanlah lahir kekuatan dan ketulusan untuk berbuat bagi sesama,” tutup Agus Flores.
(Red)

















