Manokwari — Badan Riset dan Inovasi Daerah (BRIDA) Provinsi Papua Barat menegaskan pentingnya konservasi ikan endemik perairan Kema yang kini berstatus terancam punah. Hal ini disampaikan Sekretaris BRIDA Papua Barat, Erens Ngabalin, S.Hut., MP, mewakili Kepala BRIDA Prof. Dr. Charly D. Heatubun, M.Si, melalui pesan WhatsApp kepada jurnalis Tempo.Timur.com, Jumat siang (15/8/2025).
Menurut Erens, ikan endemik yang ditemukan di perairan pegunungan pada tahun 1990 di sungai prafi distrik warmare ini memiliki peran penting dalam ekosistem perairan dan menjadi indikator kualitas lingkungan.
“Populasi ikan ini banyak di daerah hulu yang hutannya masih terjaga. Namun, ketika memasuki daerah tengah dan hilir, jumlahnya menurun akibat aktivitas manusia,” jelas Erens.
Ia menegaskan, penurunan populasi ikan endemik ini berkaitan erat dengan tata kelola lingkungan yang kurang baik. Aktivitas manusia seperti pembukaan lahan, pembangunan, dan degradasi habitat menjadi ancaman serius bagi kelestariannya.
Erens mengapresiasi peran UNIPA Manokwari yang mempresentasikan hasil penelitian ini. Ia menilai kolaborasi antara pemerintah, akademisi, swasta, masyarakat, dan lembaga keagamaan penting untuk mendorong riset dan inovasi berbasis pelestarian sumber daya alam.
“Papua adalah surga kecil yang Tuhan turunkan ke bumi. Masih banyak potensi alam yang belum tergali, dan penelitian ini contoh nyata yang harus kita dukung,” ujarnya.
BRIDA Papua Barat berharap pemerintah daerah dapat menjadikan temuan ini sebagai dasar kebijakan perlindungan habitat dan pengelolaan lingkungan. Erens mengingatkan bahwa hilangnya satu spesies dapat memicu hilangnya spesies lain dalam rantai ekosistem.
“Kalau makhluk hidup kecil punah, yang lain juga akan ikut punah. Kita tidak ingin warisan alam ini hanya tinggal cerita,” tegasnya.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K



















