Bahasa yang Menghipnotis Persatuan dan Kemerdekaan

- Penulis

Minggu, 14 Agustus 2022 - 12:59 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

JAKARTA – Merayakan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia yang ke-77, Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Teguh Santosa membacakan naskah proklamasi kemerdekaan di arena Car Free Day (CFD) di Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta Pusat, Minggu pagi (14/8). 

 Ketika membacakan naskah proklamasi itu, Teguh didampingi paduan suara dari SMA 23 Jakarta yang menghiringi dengan menyanyikan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya dan beberapa lagu nasional serta lagu daerah lainnya. Warga ibukota yang sedang melakukan berbagai aktivitas di arena CFD menyaksikan pembacaan naskah proklamasi itu.

 Prosesi pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan RI ini adalah bagian dari serangkaian kegiatan yang digagas Komunitas Kolaborasi pimpinan Sonny Muhammad menjelang puncak HUT Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus nanti. Kegiatan ini dimulai Sonny dan kawan-kawan sejak tanggal 31 Juli lalu. 

Baca Juga  Penanganan LP Oleh Kepolisian Lambat, Ada Agus Flores

  Seperti nama kelompoknya, Sonny menggandeng banyak pihak untuk berkolaborasi menanamkan kembali semangat kemerdekaan di tengah masyarakat Indonesia. Selain siswa sekolah dan kelompok pemuda, ia juga merangkul kalangan artis dan aktivis, serta anggota masyarakat lainnya. 

  Naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia ini terbilang unik. Singkat, hanya terdiri dari 24 kata, dalam dua paragraph. Dipuji sebagai susunan kata-kata yang memiliki kemampuan menghipnotis pembaca dan pendengarnya, atau Hypnotic Language Pattern. Walau singkat, namun daya hipnosisnya memang terbukti mampu menyatukan belasan ribu pulau di gugusan Nusantara dan membangkitkan semangat berjuta-juta rakyatnya untuk merdeka.

  Barangkali inilah naskah tersingkat di dunia yang mampu membebaskan dan memerdekakan suatu bangsa yang besar.

  Naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia disusun oleh Sukarno, Mohammad Hatta, dan Achmad Subardjo pada malam hari 16 Agustus 1945 di rumah petinggi militer Jepang, Laksamana Maeda Tadashi, di Menteng. Ketika itu Bung Karno dan Bung Hatta baru saja “dibebaskan” kelompok pemuda yang sempat “menculik” mereka dan “menyandera” mereka di rumah keluarga Djiaw Kie Siong di Rengas Dengklok, Karawang. Rumah Laksamana Maeda Tadashi itu kini telah menjadi Museum Perumusan Naskah Proklamasi. 

Baca Juga  Wujud Dukung Pemilu Damai 2024, Permasi Serukan Tolak Politik Identitas

  Sebelum membacakan naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia, Teguh mengatakan, membaca  naskah itu adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Namun harus diingat, naskah proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia itu adalah puncak dari perjuangan yang telah dilakukan para founding fathers Indonesia di masa lalu. 

  “Naskah proklamasi yang akan saya bacakan tentu sangat singkat. Dan membacakannya tentu hal yang mudah. Tetapi saya ingin mengajak kita semua untuk memikirkan bahwa menyusunnya bukan sesuatu yang mudah,” ujar Teguh Santosa. 

  “Dan, membuktikan isinya, tentu jauh lebih sulit. Artinya, mengisi kemerdekaan tentu jauh lebih sulit daripada sekadar membacakan naskah proklamasi. Semoga kegiatan kita membawa manfaat dan membuat kita semua ingat kembali pada cita-cita luhur kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia,” ujarnya. 

Baca Juga  Pengurus DPC HNSI Kabupaten Batu Bara Masa Bhakti 2002/2027 Di Lantik

  Teguh yang mengenakan sweater biru dan mengikatkan bandana Komunitas Kolaborasi di kepalanya membacakan naskah proklamasi itu tanpa teks dengan menggunakan toa pengeras suara. Di akhir pembacaan naskah proklamasi kemerdekaan, ia meneriakkan salam merdeka tiga kali dan disambut meriah para pendengarnya.

Sumber : Arief Gunawan Pemerhati Sejarah dan Anggota Dewan Pakar JMSI

Berita Terkait

Beda Budaya, Satu Pelaminan: Bella Olivia dan Fahdi Saidi Lubis Satukan Tradisi Jawa-Mandailing
Imigrasi Depok Amankan 13 WNA, Dugaan Penyalahgunaan Izin Tinggal hingga Overstay Ditemukan 
Majelis Kedatukan dan Laskar Melayu Batu Bara Rawat Makam Sultan Kedah di Medang Deras
DPD IMM Sumut Gelar Konsolidasi Daerah, Siap Kawal Muktamar IMM ke-21
Daulat Tuanku! Tanjung Kasau Kembali Punya Raja, Tengku Ismed Indra Gelar Raja Alam Perkasa II
Akar Melayu Deli, Jadi Kunci Budaya Medan
Gebyar Batu Bara Bertanjak VII Resmi Ditutup
Hari Ke Enam Gebyar Batu Bara Bertanjak Sajikan Debus Kombang Bungo

Berita Terkait

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:52 WIB

Beda Budaya, Satu Pelaminan: Bella Olivia dan Fahdi Saidi Lubis Satukan Tradisi Jawa-Mandailing

Jumat, 30 Oktober 2026 - 20:32 WIB

Imigrasi Depok Amankan 13 WNA, Dugaan Penyalahgunaan Izin Tinggal hingga Overstay Ditemukan 

Kamis, 29 Oktober 2026 - 08:50 WIB

Majelis Kedatukan dan Laskar Melayu Batu Bara Rawat Makam Sultan Kedah di Medang Deras

Senin, 26 Oktober 2026 - 23:51 WIB

DPD IMM Sumut Gelar Konsolidasi Daerah, Siap Kawal Muktamar IMM ke-21

Minggu, 25 Oktober 2026 - 22:01 WIB

Daulat Tuanku! Tanjung Kasau Kembali Punya Raja, Tengku Ismed Indra Gelar Raja Alam Perkasa II

Berita Terbaru

You cannot copy content of this page