
FAKFAK — Di tengah kemarau panjang yang memicu kelangkaan air bersih dan meningkatkan risiko kebakaran hutan, masyarakat Kabupaten Fakfak, Papua Barat, bersama jajaran TNI dan pemerintah daerah menggelar Sholat Istisqa untuk memohon turunnya hujan.
Doa bersama itu berlangsung di Taman Ruang Terbuka Hijau (RTH) Ma’ruf Amin, Jalan Tsalasa Namudat, Kabupaten Fakfak, Sabtu (10/10/2026).
Kegiatan tersebut dihadiri Komandan Kodim (Dandim) 1803/Fakfak Letkol Inf Wahlin Rahman, S.Pd., Bupati Fakfak, unsur Forum Koordinasi Pimpinan Daerah (Forkopimda), serta masyarakat setempat.
Sholat Istisqa menjadi bentuk ikhtiar spiritual di tengah kesulitan yang dirasakan masyarakat akibat kemarau berkepanjangan.
Melalui ibadah tersebut, umat Islam memanjatkan doa kepada Allah SWT agar hujan segera turun, kekeringan berakhir, dan kehidupan masyarakat kembali berjalan normal.
Bagi warga yang tengah menghadapi keterbatasan air bersih, turunnya hujan bukan sekadar perubahan cuaca. Hujan menjadi harapan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari, menjaga lingkungan, serta mengurangi ancaman kebakaran hutan dan lahan yang dapat meluas ketika kondisi alam semakin kering.
Kehadiran personel Kodim 1803/Fakfak bersama pemerintah daerah dan masyarakat menunjukkan pentingnya kebersamaan dalam menghadapi situasi sulit.
Di tengah tantangan kemarau, kepedulian dan semangat gotong royong menjadi kekuatan untuk saling mendukung dan menjaga kehidupan bersama.
Meski doa menjadi bagian penting dari ikhtiar, upaya menghadapi dampak kekeringan juga membutuhkan langkah nyata. Ketersediaan air bersih bagi warga, pemantauan wilayah rawan kebakaran, serta kesiapsiagaan seluruh pihak perlu terus diperkuat agar masyarakat tidak menghadapi kesulitan ini sendirian.
Melalui Sholat Istisqa tersebut, masyarakat Fakfak berharap hujan segera membasahi tanah yang mengering, sumber air kembali terisi, dan ancaman kebakaran hutan dapat ditekan. Harapan itu sekaligus menjadi pengingat bahwa dalam menghadapi bencana dan kesulitan, doa, kepedulian, serta kerja bersama harus berjalan beriringan.
Penulis: Amatus Rahakbauw K








