Jakarta — Ribuan buruh menggelar aksi demonstrasi di kawasan Penjompongan, Jakarta Pusat, pada Jumat (28/8) malam. Aksi ini merupakan bentuk penolakan terhadap rencana kenaikan gaji anggota DPR yang dinilai tidak adil bagi rakyat kecil, terutama kaum pekerja yang masih berjuang dengan upah rendah.
Awalnya, massa buruh melakukan orasi di sepanjang jalan sambil membentangkan spanduk dan poster bertuliskan penolakan kenaikan gaji DPR. Namun situasi mulai memanas ketika sebagian massa menutup akses jalan utama. Aparat kepolisian yang berjaga kemudian mengerahkan kendaraan taktis dan mobil water cannon untuk membubarkan kerumunan.
Suasana ricuh pun tak terhindarkan. Sirene kendaraan kepolisian meraung, lampu rotator menyala, dan aparat mendorong massa agar mundur. Sejumlah buruh tampak berlarian mencari tempat aman, sementara sebagian lainnya bertahan di lokasi. Lalu lintas di sekitar Penjompongan sempat lumpuh akibat massa yang tumpah ke jalan.
Ajay, salah seorang warga yang berada di sekitar lokasi, menuturkan bahwa aparat menggunakan cara represif dalam membubarkan demonstran. “Tadi banyak buruh yang dipukul mundur dengan kasar, bahkan ada yang terlihat dipukul aparat. Padahal mereka cuma teriak-teriak saja,” ungkap Ajay saat diwawancarai di lokasi.
Hingga berita ini diturunkan, kepolisian belum memberikan keterangan resmi mengenai jumlah massa yang diamankan maupun adanya korban. Aparat menegaskan langkah pembubaran diambil untuk mencegah kerusuhan lebih besar dan menjaga keamanan warga sekitar.
Sementara itu, perwakilan buruh menyatakan kekecewaan terhadap tindakan aparat. Mereka menegaskan akan terus memperjuangkan aspirasi menolak kenaikan gaji DPR dan mendesak pemerintah lebih memprioritaskan kesejahteraan buruh Indonesia.
Penulis : Dhanu











