Fakfak — Suasana penuh urapan Roh Kudus menyelimuti Ibadah Kebangunan Rohani (KKR) yang digelar pada Minggu malam, 8 Juni 2025 pukul 20.34 WIT di Gereja Pantekosta di Indonesia (GPdI) Jemaat Bethesda Fakfak, yang terletak di Jalan A. Yani, Kelurahan Fakfak Kota, Kabupaten Fakfak, Provinsi Papua Barat.
Acara rohani ini dipimpin oleh Pdt. Firman Koseratu, seorang hamba Tuhan yang dikenal lantang dan tanpa kompromi dalam menyuarakan kebenaran firman Tuhan. Dalam khotbahnya yang tajam namun membangun, ia menyampaikan tema:
“Roh Kudus Turun untuk Memberi Kuasa Menjadi Saksi, Bukan Menjadi Sakti.”
Mengacu pada Kisah Para Rasul 2:15 dan 2:37, Pdt. Firman menekankan bahwa pelayanan bukanlah panggung untuk mencari keuntungan pribadi, tetapi panggilan kudus untuk menjadi saksi Kristus melalui hidup yang dipimpin oleh Roh Kudus.
“Jangan jadikan uang sebagai motivasi pelayanan. Kita memang butuh uang untuk hidup, tapi uang bukan alasan kita melayani Tuhan. Pelayanan tanpa Roh Kudus adalah pekerjaan kosong, dan cepat atau lambat akan runtuh,” tegasnya di hadapan ratusan jemaat.
Lebih lanjut, ia memberi peringatan keras namun penuh kasih:
“Kalau cinta uang masih menguasai hati kita, jangan heran kalau pelayanan kita kehilangan arah. Jangan biarkan Roh Kudus jalan sendiri karena kita lebih sibuk kejar amplop daripada kejar hadirat-Nya.”
Dalam khotbahnya, Pdt. Firman juga menyoroti fenomena kekristenan masa kini yang menurutnya “ramai di mulut tapi sepi di Roh”. Banyak yang rajin ke gereja, namun keputusan hidupnya tidak dipimpin oleh Roh Kudus, melainkan oleh kenyamanan, jabatan, dan uang.
Ia mengajak seluruh jemaat, khususnya para pelayan Tuhan, untuk berani meninggalkan zona nyaman dan siap dilatih dalam tantangan, sebab di situlah karakter rohani dibentuk.
“Melayani dalam tekanan adalah ujian kedewasaan iman. Ketika kamu ditampar di pipi kanan, berilah juga pipi kirimu. Bukan karena lemah, tapi karena kamu kuat dalam kasih Kristus,” ujarnya.
Ibadah KKR ini dihadiri ratusan jemaat, yang datang dengan hati yang haus akan hadirat Tuhan. Banyak yang tersentuh dan menangis saat Firman disampaikan, merasakan dorongan kuat untuk memperbarui komitmen dalam melayani.
Kegiatan ini bukan sekadar acara rohani, tapi menjadi momen peringatan keras bagi umat percaya: pelayanan bukan soal posisi, pujian, atau pemberian, tetapi soal ketaatan dan ketulusan hidup dalam pimpinan Roh Kudus.
Penulis : Amatus.Rahakbauw.K




















